Sikapi Paus Terdampar di Pessel, Kementerian Kelautan dan Perikanan akan Sosialisasi kepada Nelayan

PAINAN–  Direktorat Jenderal PRL Kementerian Kelautan dan Perikanan Fadly Pratama Widjaya menyebutkan, Hiu Paus atau Rhincodon Typus  yang terdampar dan mati di perairan Pessel  termasuk hewan dilindungi sesuai Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan No. 18 tahun 2013.

“Setelah melalui proses yang panjang akhirnya ikan bernama latin Rhincodon Typus ini ditetapkan sebagai jenis ikan yang dilindungi secara penuh melalui Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan No. 18 Tahun 2013 tentang Penetapan Status Perlindungan Penuh Ikan Hiu Paus (Rhincodon typus),” ujarnya.

Proses penetapan status perlindungan ikan hiu paus ini, kata dia, sudah melalui tahapan yang diatur dalam Permen KP No. 03 Tahun 2010 tentang Tata Cara Penetapan Status Perlindungan Jenis Ikan yang meliputi Usulan Inisiatif, Verifikasi Usulan, Analisis Kebijakan, Rekomendasi Ilmiah, dan Penetapan.

Selain itu, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) selaku Otoritas ke Ilmuan juga telah memberikan rekomendasi perlindungan penuh terhadap ikan hiu paus (Rhincodon typus) melalui surat No. 2425/IPH.1/KS.02/X/2012 tanggal 12 Oktober 2012, perihal Perlindungan Ikan Hiu Paus yang menyatakan bahwa ikan fauna tersebut sudah memenuhi kriteria sebagai ikan yang statusnya perlu dilindungi secara penuh sesuai dengan Peraturan Pemerintah No. 60 tahun 2007 tentang Konservasi Sumber Daya Ikan.

“Sebab, Ikan hiu paus ini merupakan salah satu ikan terbesar di dunia. Jenis ini juga terkenal dengan sebutan hiu totol atau hiu bodoh,” tuturnya.

Dalam waktu dekat, pihaknya bakal melakukan sosialisasi terhadap masyarakat nelayan agar keberadaan hewan fauna ini tetap terjaga habitatnya.  “Ya, nanti bakal kita sosialisasikan kepada masyarakat, khususnya nelayan di seluruh daerah yang ada di Sumbar,” ucapnya.

Untuk diketahui, Indonesia merupakan salah satu jalur migrasi dari ikan hiu paus, hal ini terbukti dengan seringnya jenis ikan ini ditemui dibeberapa wilayah perairan Indonesia seperti perairan Sabang, Situbondo, Bali, Nusa Tenggara, Alor, Flores, Sulawesi Utara, Maluku, dan Papua. Sepanjang tahun, ikan ini dapat ditemukan di sekitar Tanjung Kwatisore, Nabire Papua dengan jumlah populasi diperkirakan sekitar 27 – 41 ekor.

BACA JUGA:  Dandim 0311/Pesisir Selatan Tinjau Posko TMMD ke 109 di Nagari Pancung Taba

Penelitian mengenai jenis ikan hiu ini masih sangat minim dikarenakan sulitnya mempelajari siklus hidupnya yang cenderung migrator dan hidup soliter. Namun, diperkirakan jumlahnya makin berkurang dikarenakan mudahnya ikan ini tertangkap secara tidak sengaja (bycatch) oleh nelayan karena ukurannya yang besar dan gerakannya yang lambat. Jenis ikan ini termasuk ke dalam Appendiks II CITES dan daftar merah IUCN dengan kategori Rentan (Vulnerable), karena memiliki karakter yang spesifik seperti berumur panjang, fekunditas rendah, jumlah anakan sedikit, lambat dalam mencapai matang kelamin dan pertumbuhannya lambat, sehingga sekali terjadi over eksploitasi, sangat sulit bagi populasinya untuk kembali pulih

Hiu paus bernama latin Rhincodon Typus adalah predator tingkat trofik  tinggi dalam ekosistem pesisir dan lautan terbuka. Manfaat dari penetapan status perlindungan penuh ikan ini adalah untuk menjaga keseimbangan ekosistem (rantai makanan) perairan laut, menjaga kelestarian biota laut langka (eksotik), menjaga nilai dan keanekaragaman sumberdaya ikan dan lingkungan secara berkelanjutan, serta memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat melalui pengembangan pariwisata bahari berbasis ikan hiu paus seperti yang dilakukan oleh Australia.

Berdasarkan pertimbangan di atas untuk menghindari ancaman kepunahan ikan hiu paus di habitat alam dan menjaga keanekaragaman hayati jenis ikan di Indonesia, Kementerian Kelautan dan Perikanan menetapkan ikan hiu paus sebagai jenis ikan dilindungi. Dengan penetapan ini, pemerintah Indonesia telah menunjukan komitmennya sebagai negara yang serius dalam upaya konservasi hiu di tingkat nasional.

Seluruh upaya serius pengelolaan konservasi hiu ini diharapkan memberi dampak positif bagi pencitraan dunia perikanan dan pariwisata Indonesia di mata dunia. Kemudian sebagai tindak lanjut dari penetapan hiu paus sebagai ikan yang dilindungi, Kementerian Kelautan dan Perikanan akan melakukan kegiatan sosialisasi, pengawasan, penyusunan rencana pengelolaan dan monitoring populasi.

BACA JUGA:  Kantor KPU Pasaman Wajibkan Gunakan Hand Sanitizer Sebelum Masuk

Reporter: OKIS ROCKIN

Editor: MALIN MARAJO

Facebook Comments

loading...