Selekda Pra PON Sepatu Roda, Status Atlit Binaan Koni Sumbar Dipertanyakan

315
Para atlit Sepatu Roda dari berbagai Kabupaten Kota di Sumbar bersiap di garis Start, dalam seleksi Pra PON cabang Sepatu Roda di arena Sepatu Roda Pantai Cermin Kota Pariaman, Sabtu (6/7) - MM

PARIAMAN – Pengurus Provinsi Persatuan Olahraga Sepatu Roda Seluruh Indonesia (Porserosi) Sumbar, menggelar seleksi daerah (selekda)di sirkuit sepatu roda Pantai Cermin Kota Pariaman, Jum’at (5/7). Selekda yang diikuti oleh 26 atlit itu dipersiapkan untuk  mengikuti babak kwalifikasi PON yang akan digelar pada 8-15 September 2019 di Bekasi.

Peserta yang mengikuti seleksi tersebut  merupakan utusan pengkab dan pengkot se-Sumbar dan atlit binaan Koni Sumbar. Seluruh peserta selekda wajib mengikuti 6 nomor yang dipertandingkan. Terdiri nomor Individual time trial (ITT) 100 meter, 200 meter (flying star), ITT 400 meter, ITT 500 meter, Sprint 5.000 meter dan 10.000 eliminasi.

” Nanti akan kita saring menjadi 5 orang putra dan 5 putri untuk mengikuti pelatda yang akan diberangkatkan ke Pra Pon Bekasi,” kata Tecnical Deligen Porserosi Sumbar Drs. Arfan Rasyda di sela pelaksanaan selekda.

Selain dihadiri oleh pengurus Pengprov Porserosi Sumbar, pelaksanaan seleksi juga disaksikan oleh waketum II Koni Sumbar Drs. Fazril Ale dan Tim Monitoring dan evaluasi (Monev) Koni Sumbar, Togi Tobing, Darmansyah,  Hendy Luthan dan Raemon. ” Kami berharap melalui seleksi ini lahir atlit sepatu roda yang akan mengangkat nama Sumbar di tingkat nasional nantinya,” kata Fazril Ale.

Jelang pelaksanaan seleksi tersebut, sebelumnya sempat diwarnai ketegangan akibat protes yang dilayangkan oleh Official tim Pengkot Bukittinggi dan Solok Selatan yang mempertanyaan keberadaan status yang mengaku atlit binaan Koni Sumbar dalam seleksi tersebut.

BACA JUGA:  Askab PSSI Kab. Solok dan Persikas Dilantik, Ini dia PR Pengurus Baru

Pasalnya, selain tidak melengkapi persyaratan dengan membawa rekomendasi Pengkab atau Pengkot yang menaungi atlit tersebut, status binaan yang disematkan untuk atlit yang bukan berasal dari luar Sumbar, dinilai telah mengkebiri hak putra daerah Sumbar untuk mendapatkan perhatian melalui pembinaan olahraga.

” Kami mempertanyakan status mereka, yang hadir tanpa rekomendasi Pengkab/Pengkot. Kenapa mereka diperlakukan khusus..?? Sementara kami sebagai putra daerah diwajibkan melengkapi persyaratan..??,” kata pelatih Kota Bukittinggi Indra Harisman dan pelatih Solsel Ryan.

Menurutnya, kalau memang ada atlit binaan, kenapa tidak diberikan kepada atlit daerah sendiri. Karena untuk menyandang status binaan, biasanya akan disupport dengan anggaran yang notabene berasal dari APBD setempat. ” Kami sedih, selama ini tak dapat dukungan anggaran pembinaan layaknya atlit yang datang dari Semarang itu. Apa salahnya kami juga menerima. Toh dari segi kemampuan, kami juga tak kalah dengan mereka,” katanya kesal.

Terkait persoalan itu, Pelaksana Harian Ketua Umum Pengprov Porserosi Sumbar Edi Suandi, S.Sos.I, MM mengaku tidak tahu menahu kalau selama ini ada atlit binaan. Faktanya, selama ini dalam berbagai iven yang digelar oleh pengprov Porserosi Sumbar, nama atlit tersebut tak pernah tampil. “Tetiba saja, ketika akan ada Pra Pon muncul atlit berstatus binanaan Koni Sumbar. Kami di Pengprov selama ini tidak pernah tau menahu, kalau ada atlit binaan. Harusnya,  status atlit  binaan itu diusulkan melalui pengprov Cabor dulu,” kata Edi Suandi.

Menjawab itu, Wakil Ketua Umum II Koni Sumbar Fazril Ale membenarkan bahwa kehadiran tiga orang atlit  dan pelatih dari Semarang tersebut memang berstatus binaan Koni  Sumbar. Mereka (Atlit dan Pelatih) tersebut sudah dibina sajak tahun 2016 silam. “Kehadiran mereka jauh-jauh dari Semarang ke Pariaman ini adalah untuk mengikuti seleksi. Kan sayang kalau tak diikutkan. Toh kalaupun mereka kalah, kami siap untuk mengeliminasi mereka untuk tidak diikutkan pada Pra Pon nanti,” tegas Ale.

BACA JUGA:  Peringati Haornas 36, Bupati Gusmal Berikan Bonus Kepada Atlit dan Pelatih Berprestasi

Reporter : MALIN MARAJO

Loading...
loading...