Rusdi Saleh, Dari Pasar Hingga Pengabdian Tanpa Pengecualian

195
Rusdi Saleh

Lembaga DPRD Kota Solok kini memasuki babak baru. Momentum itu ditandai dengan pengambilan sumpah dan janji sebagai bagian dari prosesi pelantikan sebagai anggota dewan yang baru periode 2019-2024 di gedung Kubuang Tigo Baleh yang berada di batas Kota Solok itu, Selasa (7/8) lalu.

Semua riang gembira. Tak tampak wajah berduka di dalam gedung pertemuan yang megah itu. Perasaan mengharu birupun membias. Tak hanya dari 20 orang anggota dewan baru itu, namun juga dari undangan yang hadir kala itu. Mulai dari pihak keluarga dekat, keluarga jauh, para tim sukses, ataupun mereka yang hanya datang untuk memberikan ucapan selamat saja.

Diawali dengan prosesi pelantikan, sidang paripurna istimewa itu berlangsung khidmat. Walikota dan ketua DPRD yang secara bergantian memberikan sambutan berusaha menggugah masyarakat yang menyesaki ruangan itu. banyak tantangan dan harapan yang ditumpangkan di pundak para legislator yang kini banyak diisi oleh wajah-wajah baru tersebut.

Salah satu wajah baru yang akan menjadi penyambung lidah rakyat di kota Solok untuk 5 tahun ke depan adalah Rusdi Saleh. Pria yang sebelumnya dikenal sebagai ketua Lembaga pemberdayaan masyarakat kelurahan (LPMK) Tanah Garam tersebut, maju menggunakan menggunakan bendera Partai Amanat Nasional. Dia ditetapkan oleh KPU Kota Solok lolos ke parlemen setelah mengantongi 878 suara sah di dapil kota Solok 1 yang meliputi Kecamatan Lubuk Sikarah.

Bagi Saleh, begitu ketua Barisan Muda PAN Kota Solok ini biasa disapa, menjadi anggota dewan adalah mimpi yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Pasalnya, jika dirunut setiap lembaran dari buku tebal kisah kehidupan yang dilaluinya, penuh dengan kerikil tajam dan kisah perjuangan anak manusia nan dilamun gelombang hidup.

BACA JUGA:  Tipu Mantan Kadis Perkim dan Kadis PU Kota Solok, AR Ditangkap Polisi

Baru berumur lima bulan sudah ditinggal sang bapak. Peran sang bapak kemudian digantikan oleh bapak tiri. Saleh kemudian memilih hidup bersama induak bako (keluarga bapak) di kelurahan Anam Suku. Jenjang pendidikan diawali dari SD Inpres Tanah garam, kemudian dilanjutkan ke SMPN 1 Solok. Sementara  pendidikan tingkat atas diselesaikan di STM negeri Solok tahun 1990. “Tinggal bersama induak bako, mengajarkan saya tentang banyak hal. Terutama dengan disiplin,” kata Saleh.

Merasa belum mampu berguna banyak di kampung halaman, Saleh kemudian memilih mengadu untung di perantauan. Pilihan untuk merantau juga dipicu lantaran etek yang selama ini menjadi orang tua angkatnya telah dipanggil sang pencipta.

Pilihan pertama nan dituju di perantauan adalah berdagang pakaian di Pasar Minggu Jakarta. Kadang-kadang dalam sehari tidak makan pernah dijalani, namanya saja menjadi anak galeh orang. Untuk menyambung hidup sesekali ikut pula mengamen di jalanan.

Dari pasar minggu, dia kemudian berpindah ke blok M tahun 1992. Di sentra perdagangan itu, Saleh mencoba menambah keahlian dalam bidang menjahit dan membuat pola pakaian. Berkat ketekunannya, nama Rusdi Saleh mulai dikenal secara luas bahkan dikalangan artis kala itu. “Namun usaha yang saya bangun itu kandas. Krisis moneter tahun 1998 membuat saya harus gulung tikar dan mencari peruntungan lain dari pasar yang satu ke pasar yang lain,” tukasnya.

Saleh juga pernah menjajal sebagai pedagang pakaian bekas di pasar Senen. Di pasar Senen tersebut dia mulai mengenal dunia organisasi, saat bergabung dengan sejumlah ormas berbasis pedagang pasar. Saat itulah Saleh mengenal sosok Zainal Bintang yang dulu dikenal sebagai politisi senior Partai Golkar. Sosok ini ditenggarai banyak mempengaruhi cara pandang seorang Rusdi Saleh dalam dunia organisasi massa.

BACA JUGA:  Polling Bakal Calon Bupati Solok Pilkada 2020, Siapa Bupati Pilihan Anda?

Namun sayang ketika usahanya mulai mengeliat, pasar Senen tempatnya menyandarkan harapan, malah terbakar. Salehpun kembali memulai usaha baru dengan menjual buah-buahan di pasar Induk. Tak lama berselang, dia kembali ke pasar Senen. Saat usaha kembali menanjak naik, diapun harus pulang kampung karena orang tua satu-satunya mulai sakit-sakitan.

Hidup dikampung dijalaninya, meski harus mendapat cibiran orang karena bekerja sebagai kuli bangunan dan bekerja serabutan. Berbekal ijazah STM yang dimilikinya, dia kemudian melamar di sebuah perusahaan konsultan bangunan, dari informasi yang didapatnya di internet.

Lamaranpun diterima, saleh mulai bekerja sambil menimba ilmu sebagai konsultan perencana perumahan di Bukittinggi. Kerja itu hanya berlangsung 1 tahun dan berlanjut sebagai developer perumahan di Payakumbuh. Namun itupun tak berlangsung lama, dan Salehpun kembali ke Solok.

Saat berhenti bekerja sebagai developer perumahan tersebut itulah, dirinya kemudian mendapat tawaran dari seorang kenalan lama untuk membuat sebuah sekolah. Sekolah itu kemudian menjadi cikal bakal didirikannya yayasan Darianis Yatim yang kini membesarkan namanya.

Bersama Hj. Yenna Roseva Boer, Saleh dikenalkan dengan H. Yenon Orsa seorang pengusaha asal Solok yang sukses di Jakarta, yang merupakan pendiri Yayasan Darianis Yatim hingga menjadi orang kepercayaan di yayasan tersebut. Sebuah yayasan sosial yang konsen memperjuangkan beasiswa bagi anak-anak kurang mampu, renovasi dan pendirian mesjid dan mushalla di Kota Solok.

“Kalau membangun perumahan, labanya akan dikembalikan kepada yayasan untuk disumbangkan untuk kegiatan sosial seperti membangun mesjid, membantu anak yatim dan du’afa,”  ucapnya.

Diakuinya, sukses yang diraihnya pada hari ini tak lepas dari takdir Allah yang telah mempertemukannya dengan keluarga besar Darianis Yatim, terutama H. Yenon Orsa dan adiknya Hj. Yenna Roseva Boer. “Dari mereka saya banyak belajar tentang makna hidup. Apalah gunanya kaya, kalau tak bisa berbuat baik untuk masyarakat banyak. Bukan untuk gagah-gagahan, tapi karena kesusahan hidup yang pernah saya lalui, telah mengusik naluri saya untuk lebih peka terhadap sesama,” katanya.

BACA JUGA:  Usai Dilantik Jadi Anggota DPRD, Efriyon Coneng Jamu Masyarakat Makan Siang Bersama

Aktifitasnya di yayasan itu juga lah yang kemudian menginspirasinya untuk terjun ke kancah politik sebagai anggota legislatif di kota Solok. Tujuan utamanya agar lebih maksimal memperjuangkan kepentingan orang banyak. “Terserah apapun penilaian orang saat ini. Tugas saya hanya ingin memberikan kebaikan untuk masyarakat banyak melalui tupoksi saya sebagai anggota DPRD,” ujarnya.

Meski telah duduk sebagai legislator, namun pihaknya memastikan semua program yang telah dirancangnya bersama yayasan Darianis Yatim akan tetap berjalan sebagaimana mestinya. Karena program tersebut merupakan program jangka panjang sebagai bekal di akhirat kelak. “Itulah program pengabdian tanpa pengecualian,” tegasnya.

Reporter: MALIN MARAJO

 

Loading...
loading...