Pasien Covid-19 Terus Bertambah, Rumah Sakit di Sumbar Butuh Tambahan Nakes

Dokter Covid-19
tenaga kesehatan / ilustrasi

Beritanda1 –Angka kasus Covid-19 di Sumbar yang terus melonjak tinggi dalam sebulan terakhir, telah  menyedot banyak tenaga kesehatan (nakes). Bahkan tidak sedikit dari mereka yang juga ikut terpapar Covid-19. Akibatnya, hampir seluruh rumah sakit (RS) rujukan di Sumbar menderita kekurangan nakes.

 

Direktur RSUD Achmad Mochtar Bukittinggi, Khairul, mengakui bahwa pihaknnya saat ini sangat kekurangan nakes untuk penanganan pasien Covid-19. Selain karena banyaknya nakes yang ikut terpapar Covid-19, faktor kelelahan lantaran bekerja terus-menerus juga menjadi faktor utamanya.

Ia menyebut, nakes yang terpapar Covid-19 tidak terpapar saat menangani pasien Covid-19. Mereka terpapar justru ketika berada di luar lingkungan rumah sakit atau ketika menangani pasien biasa yang di kemudian hari diketahui positif Covid-19.

“Kalau untuk penanganan pasien Covid-19, kami selalu menyediakan APD lengkap. Tetapi kalau untuk penanganan pasien biasa, tentu tidak bisa. Bagaimanapun, stok APD kan lumayan terbatas. Nah, kondisi ini juga diperparah ketika ada pasien yang tidak jujur dengan penyakitnya. Oleh karenanya, sekarang kami melakukan pemeriksaan (tes swab) terhadap seluruh pasien, termasuk pasien biasa,” tutur Khairul sebagaimana dilansir Hantaran.co, Selasa (8 September 2020).

Selain itu, ia juga sengaja memberikan waktu istirahat secara bergiliran kepada nakes yang menangani Covid-19. Menurut Khairul, nakes butuh penyegaran lantaran selama beberapa bulan terakhir tanpa henti terus berkutat dengan pasien Covid-19.

“Bagaimanapun, mereka kan manusia juga. Lebih-lebih lagi penanganan pasien Covid-19 jauh lebih melelahkan dibanding penanganan pasien biasa. Jadi wajar kalau nakes butuh waktu untuk penyegaran,” katanya.

Sementara, faktor lain yang juga ikut berpengaruh adalah keterbatasan SDM yang dapat digunakan untuk penanganan Covid-19. Khairul mengatakan, tidak seluruh nakes di RSUD Achmad Mochtar dapat diberdayakan untuk menangani pasien Covid-19.

BACA JUGA:  Akhir Maret 2020, 24 Nagari di Pasaman Gelar Pilwana Serentak

“Nakes yang rentan terpapar Covid-19, semisal mereka yang berusia di atas 50 tahun atau yang memiliki riwayat penyakit bawaan, jelas tidak mungkin diberdayakan untuk menangani pasien Covid-19,” ujar Khairul.

Ia menuturkan, jumlah nakes yang menangani pasien Covid-19 di RSUD Achmad Mochtar adalah sekitar 80 orang, dengan total tempat tidur yang beroperasi sebanyak 42 tempat tidur. Bahkan dengan jumlah tersebut, Khairul menyebut pihaknya masih sangat kekurangan.

Covid-19
Tenaga Kesehatan/ Ilustrasi

“Belum lagi jika jumlah tempat tidur ditambah sebanyak 100 tempat tidur lagi, seperti komitmen kami yang kami sampaikan kepada gubernur beberapa waktu lalu. Jelas akan sangat kekurangan,” katanya.

Kendati demikian, ia menyebutkan, pihaknya telah mengajukan tambahan tenaga kepada Pemprov Sumbar, dan berhasil mendapatkan 20 orang nakes yang akan ditempatkan di RUSD Achmad Mochtar. Mereka adalah nakes yang sebelumnnya ditempatkan di pusat-puat karantina, yang saat ini sedang tidak beroperasi.

“Tapi bahkan tambahan 20 orang nakes tersebut tetap belum memadai. Kami masih kekurangan, khususnya untuk tenaga laboratorium dan tenaga rongent. Oleh sebab itu, kami sudah mengajukan surat permohonan lagi,” tutur Khairul.

Hal senada juga diutarakan Direktur RSUP M. Djamil, Yusirwan Yusuf. Ia mengatakan, setidaknya ada sekitar 26 orang nakes di RSUP M. Djamil yang terindikasi positif Covid-19 dan terpaksa harus menjalani perawatan.

“Belum lagi, dengan tingginya lonjakan kasus Covid-19 di Sumbar dalam sebulan terakhir, kami terpaksa kembali mengubah sistem kerja, yang pada gilirannya menyedot banyak tenaga kesehatan,” ujarnya.

Di samping itu, dengan diterapkannya kebijakan New Normal atau kenormalan baru, RSUP M. Djamil mau tak mau harus membuka berbagai layanan, seperti layanan rawat jalan dan rawat inap, yang pada masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) sengaja ditutup. Hal ini juga ikut menyedot banyak tenaga.

BACA JUGA:  Di Pessel, Kasus Positif Corona Menjadi 22 Orang

“Kalau dulu, nakes hanya bekerja sekitar empat jam untuk merawat pasien Covid-19. Setelah itu, mereka disuruh pulang untuk istirahat. Kalau sekarang, setelah masa New Normal sesudah bekerja empat jam merawat pasien Covid-19, mereka lanjut bekerja merawat pasien biasa. Tentu ini membuat mereka kelelahan,” katanya.

tenaga kesehatan Covid-19
para tenaga kseshatan yang kelelahan saat menangani pasien Covid-19/ilustrasi

Untuk itu, Yusirwan mengatakan, pihaknya telah mengajukan surat permohonan kepada gubernur untuk menambah tenaga kesehatan, paling tidak sebanyak 20 orang, untuk ditempatkan di RSUP M. Djamil hingga dua sampai tiga bulan ke depan.

Sebelumnya, Wali Kota Padang, Mahyeldi Ansharullah, dalam telekonferensi dengan Gubernur Sumbar, Irwan Prayitno pada Senin (7/9/2020) juga menyatakan kekuranngan nakes di RSUD Rasidin Padang.

Ia menyebut, saat ini RSUD Rasidin tujuh ruang isolasi dan 42 kamar dengan kapasitas 112 tempat tidur. Dengan kapasitas tersebut, jumlah nakes yang saat ini dimiliki dinilai tidak memadai.

“Kami berharap, ada dukungan SDM untuk penanganan pasien Covid-19 di RSUD Rasidin Padang dari Pemprov Sumbar. Sehingga penanganan Covid-19 di Padang dapat dimaksimalkan,” katanya.

Covid-19
Tenaga kesehatan/ Ilustrasi

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Sumbar, Arry Yuswandi, menyampaikan, pihaknya akan mencarikan solusi guna mengatasi persoalan kekerangan tenaga kesehatan ini. Salah satu di antaranya adalah dengan memindahkan nakes yang ada di pusat-pusat karantina atau RS rujukan yang tidak terlalu memmbutuhkan ke RS rujukan yang dinilai kekurangan tenaga.

“Bagaimanapun, sebaran kasus Covid-19 kan tidak merata di seluruh daerah di Sumbar. Ada daerah-daerah yang jumlah kasusnya kecil, sehingga beban kerjanya pun tidak terlalu tinggi. Selain itu, masyarakat juga sepertinya pilih-pilih rumah sakit. Sehingga ada RS yang jumlah pasiennya membludak, ada juga jumlahnya sedikit. Di RSUD Pariaman misalnya, masih banyak kamar yang belum terisi,” ujarnya.

BACA JUGA:  Dodo dan Natasya Sabet Mahkota Duta Genre Kab. Solok Tahun 2020

Di samping itu, ia juga berharap pihak RS juga dapat berinisiatif untuk merekrut nakes sendiri, tanpa harus bergantung kepada Pemprov Sumbar. Bagaimanapun, ucapnya, peluang RS untuk merekrut nakes sendiri terbuka lebar, lantaran Kementerian Kesehatan (Kemenkes) telah menyiapkan anggaran untuk itu.

Arry menyebut, sebelumnya Pemprov Sumbar juga telah merekrut tenaga kontrak untuk ditempatkan di RS-RS rujukan. Mereka sempat bekerja selama tiga bulan, mulai dari April hingga Juni 2019.

“Sekarang kontraknya sudah habis, dan pihak RS pun juga menyatakan sudah tidak membutuhkan tenaga tambahan, karena memang ketika itu jumlah kasus Covid-19 yang terdeteksi tidak terlalu banyak,” kata Arry.

Bagaimanapun, ujar Arry, untuk bisa merekrut nakes baru, akan ada berbagai konsekuensi yang mesti dihadapi. Salah satunya terkait masalah keterbatasan anggaran.

“Kami mengharapkan ada kemandirian dari seluruh instansi terkait. Apabila memang itu juga tidak mencukupi, kami dari provinsi tentu juga tidak akan lepas tangan. Pasti akan kami sediakan SDM untuk menutupi kekurangan itu. Akan tetapi, kalau harus menjanjikan nakes dalam jumlah tertentu, untuk sekarang belum bisa,” katanya.

Redaksi/ hantaran.co

 

Facebook Comments

loading...