ORARI, Media Komunikasi Alternatif untuk Belajar Tanpa Biaya di Masa Pandemi

Media
Ketua ORARI Solok, Nasril In Dt Malintang Sutan,SH

Beritanda1 –  Memasuki era new normal dalam masa pandemi Corona Virus Disease (Covid 19), masyarakat Indonesia  mulai menjalani aktivitas sehari-hari seperti biasa. Namun demi menjaga keselamatan dan kesehatan para siswa, sejumlah sekolah menerapkan belajar sistem online atau virtual tanpa tatap muka langsung.

 

Sistem ini juga dikenal dengan sistem pembelajaran daring (dalam jejaring). Pembelajaran daring adalah metode belajar dengan menggunakan model interaktif berbasis internet dan Learning Manajemen System (LMS), seperti menggunakan Zoom, Google Meet dan lainnya.

Terhadap itu, Ketua ORARI Solok, Nasril In Dt Malintang Sutan,SH menjelaskan, dimasa pandemi seperti sekarang ini, berbagai tingkatan institusi pendidikan terpaksa mengambil kebijakan pembelajaran jarak jauh (PJJ) atau sistem belajar dalam jaringan (daring).

Mulai dari SD, SMP, SMA, bahkan universitas, termasuk guru diperkenankan melaksanakan proses pembelajaran dari rumah masing-masing. Belajar secara daring, tentu memiliki tantangannya sendiri. Siswa bukan hanya membutuhkan suasana di rumah yang mendukung untuk belajar, tetapi juga koneksi internet yang memadai.

Faktor keberadaan fasilitas pendukung menjadi sangat sentral bagi keberhasilan belajar daring. Jika siswa tidak bisa difasilitasi peralatan pendukung, seperti ponsel, laptop, komputer, atau bahkan jaringan internet baik WiFi maupun kuota internet, maka siswa akan sulit mengikuti pembelajaran,jadi tidak semua anak didik memiliki perangkat android maupun jaringan internet yang memadai untuk belajar secara online.

Berangkat dari kenyataan itu,  pihak Organisasi Radio Amatir Indonesia (ORARI) Kota Solok dan Radio Antar Penduduk Indonesia (RAPI) Solok mencoba menawarkan solusi kepada Pemerintah  Kota Solok melalui Dinas Pendidikan untuk memfasilitasi belajar menggunakan Radio.

Solok
Perangkat Orari membantu belajar daring

Menurut Nasril In,  belajar melalui alat komunikasi Radio tidak memakan biaya atau tidak membebankan biaya kepada orang tua murid, tanpa memikirkan kuota atau paket internet. Belajar melalui media Radio para siswa masih bisa berkomunikasi dengan gurunya secara langsung walaupun tidak bertatap muka. Selain itu, para guru sangat gampang memantau muridnya yang sedang belajar di rumah masing – masing.

BACA JUGA:  Sambut 1 Muharram 1441 H, MTsM Cupak Gelar Tausiyah

Menurutnya,  untuk penggunaan HT (Handy Talky) dapat dilaksanakan secara berkelompok minimal 5 orang siswa untuk satu buah HT yang terhubung dengan gurunya. Setidaknya untuk satu lokal yang terdapat 30 orang murid, cukup dengan 6 buah HT dengan jumlah murid per satu kelompok sebanyak 5 orang.

“ Siswa dapat berkomunikasi langsung dengan guru dan mendengarkan arahan maupun materi pelajaran dari gurunya. Sebaliknya, guru dapat memberikan tugas secara langsung melalui alat komunikasi Hp dan dikumpulkan satu kali dalam seminggu,” jelasnya

Ketua ORARI Solok itu menilai,  dengan menggunakan alat komunikasi HT adalah salah satu jalan keluar yang bisa dilakukan siswa untuk tetap mengikuti proses belajar mengajar di saat pandemi. Siswa masih bisa belajar bersama teman-temannya dengan menggunakan HT, asal jangan terlalu berkerumun dan selalu mengikuti protokol kesehatan dengan baik.

Penggunaan alat komunikasi HT, tambah dia, tentunya sangat mendukung siswa. Sebab orang tua siswa,tidak harus selalu mengingatkan anaknya ketika waktunya belajar dan orang tua tidak merasa kuatir akan penyalahgunaan Hp untuk bermain game bagi anak – anaknya.

Reporter: Wahyu Haryadi

Facebook Comments

loading...