Nofi Candra: Politik Tidak Sekedar Kekuasaan, Tapi Tentang Bagaimana Mengelola Masalah-Masalah Publik.

SOLOK – Isu politik lokal yang berkaitan dengan pemilihan kepala daerah (Pilkada) setingkat Gubernur, Bupati dan Walikota serentak pada tahun 2020, semakin menarik diperbincangkan. Momentum Pilkada bahkan telah memunculkan sejumlah tokoh yang digadang-gadang bakal menjadi kandidat kuat dalam bursa Pilkada mendatang.

Menafsirakan gejala itu, anggota DPD RI H. Nofi Candra yang juga dipastikan akan menjadi kontestasi dalam bursa pemilihan Bupati Solok periode 2020 nanti, menyebutkan bahwa politik tidak sekedar kekuasaan, tapi tentang cara bagaimana menangani/mengelola/mengurus masalah masalah publik. ” Jadi bagi siapapun yang punya keinginan berbuat baik untuk kemaslahatan orang banyak, politik adalah pilihan pengabdian terbaik,” paparnya.

Menurut pimpinan Panitia Perancang Undang-Undang (PPUU) DPD RI, politik juga bisa dimaknai sebagai “membangun”. Dan membangun tidak saja fisik,  tapi yang paling penting tentu saja kesadaran semua lapisan,  bahwa selalu relevan antara visi para pemimpin politik dengan konstituennya.

Ia menjelaskan, semua tergantung kepada sejauh mana para politisi mengurai paradigma berfikirnya  menjadi tindakan tindakan praktis sesuai dengan kebutuhan real masyarakat.” Dengan pola demikian, diyakini tidak ada lagi masyarakat yang berfikir bahwa siapapun kepala daerah, nasib kami tetap saja tak berubah,” bebernya, Senin (8/7).

Menyangkut dengan suksesi kepemimpinan di Kabupaten Solok yang semakin hangat diperdebatkan, Nofi Candra menyebut sesuatu hal yang wajar. Terlebih ketika Kabupaten Solok dipandangnya tidak kekurangan dengan orang-orang baik dan hebat untuk memimpin daerah yang memiliki pesona lima danau itu.

Nofi melihat, tanpa meninggalkan nilai-nilai religius dan kecerdasan masyarakat kab. Solok yang selama ini telah diakui banyak pihak, yang membedakan seseorang dalam mengelola pptensi daerah adalah seni memimpin dan perspektif mereka melihat situasi dan kondisi terkini kabupaten solok. ” Saya tidak merasa hebat dibanding yang lain, tapi disamping punya niat yang baik untuk kabupaten solok,saya merasa memiliki perspektif yang berbeda tentang “bagaimana membangun Solok yang lebih bermanfaat utk kepentingan orang banyak,” tegas senator RI itu menyampaikan statemen soal  kepemimpinan.

BACA JUGA:  Rumah Wabup Solok Yulfadri Nurdin Disegel Ormas Suruhan, Begini Ceritanya

Menurut dia, menggerakkan birokrasi yang begitu besar, harus memiliki cara sendiri. Berfikir untuk mengendalikan mereka dengan seabrek ancaman atas jabatan karir mereka, menurutnya bukanlah cara yang bijak. Birokrasi harus di rangkul dengan benar, dipahami karakter dan jiwanya lalu beregerak sinergis dengan mereka.

Tentu saja semua itu dalam bingkai relasi kepemimpinan yang rasional, bukan memupuk kharismatik dan wibawa semu. ” Rasional berarti memiliki ukuran dan standar kinerja. Ini yang penting dikedepankan dalam upaya meningkatkan kinerja birokrasi,” jelasnya.

Tokoh muda pemilik NC Plasa itu mengaku, sebagai pelaku usaha (utamanya usaha berbasis pertanian) maupun praktisi politik, dirinya tumbuh dan berkembang dari kabupaten Solok. Lingkungan dirinya yang dominan dengan dunia pertanian,  membuat pengusaha bibit jagung Hybrida itu memupuk mimpi untuk berbuat yg terbaik bagi petani kabupaten solok.

Dengan modal politik yang terbangun sepanjang 5 tahun sebagai senator, ia memiliki pengalaman dan kapabelitas yang    cukup untuk menyiapkan berbagai kebijakan publik guna menguatkan petani. ” Ini juga yang menjadi alasan bagi dirinya tidak maju lagi ke parlemen, tetapi lebih memilih berjuang di ekesekutif supaya lebih leluasa berbuat nyata untuk dunia kepetanian kabupaten solok,”bebernya.

Editor :MALIN MARAJO

Facebook Comments

loading...