Mengurai Macet Padang Panjang-Bukttinggi, Posisi Pasar Koto Baru Digeser Kebelakang

22

TANAH DATAR – Soal kemacetan di ruas jalan Padang Panjang-Bukittinggi saat melintas di Pasar Koto Baru Tanah Datar, sebenarnya bukan khabar baru. Macet akut sudah berlangsung lama. Kemacetan depan pasar sayur terbesar itu bahkan sudah melegenda ke provinsi lain.

Gubernur Sumatera Barat Prof. Dr. H. Irwan Prayitno, Psi. MSc memandang, untuk menyelesaikan masalah kemacetan itu butuh komitmen besar dari masyarakat dan seluruh pihak. Dengan dukungan seluruh unsur dan masyarakat, merupakan faktor kunci atas suksesnya pembangunan pasar sekaligus guna mengurai permanen masalah macet di kawasan itu.

Demikian seyidaknya disampaikan
Gubernur Sumbar ketika mengiringi peletakan batu pertama pembangunan Pasar Koto Baru Kecamatan X Koto di Kabupaten Tanah Datar, Sabtu (20/7/2019).

Disambungnya, kemacetan pasar Koto Baru sudah berlangsung sangat lama dan sudah beberapa kali dicarikan solusinya, namun belum berhasil. Akhirnya disepakati, dengan kerelaan masyarakat setempat melepas lahannya, akan dilakukan pergeseran posisi pasar ke arah belakang untuk dibangun tempat bongkar muat barang serta dibangun jalan menjadi dua jalur. “Pengerjaannya sudah dimulai dengan membongkar beberapa kios untuk jalan masuk kendaran proyek,” jelas Irwan Prayitno.

Dirinya mengajak semua stakeholder agar mendukung penuh program pemerintah untuk kebaikan bersama. Apalagi potensi dan prosfek pasar Koto Baru sangat besar. Saban hari senin beredar uang sedikitnya sekitar 5 miliar.” Pembangunan ini kita harapkan menjadi solusi agar pedagang dan pembeli nyaman beraktivitas, disisi lain memutus masalah macet yang sudah dikenal selama bertahun-tahun,” sambung Gubernur Irwan Prayitno.

BACA JUGA:  Tinjau Pembangunan Jaringan Irigasi, Bupati Sutan Riska Harapkan Nagari Simalidu Menjadi Sentra Produksi Pangan dan Ikan

Ia.memaparkan, sudah berbagai upaya dilakukan untuk mengatur permasalahan macet jalan jalur lintas Padang-Bukittinggi di Pasar Koto Baru. Kendati dengan menugaskan Polisi, Dishub dan menambah Satpol PP untuk mengatur pedagang dan lalu lintas, namun tetap saja macet.

Bahkan sudah berbagai cara untuk solusi kemacetan, namun masih tetap belum mencapai titik temu. Diantaranya ide membangun jalan layang, memindahkan sebagian pedagang ke bagian seberang pasar dan membangun bagian belakang pasar, tetapi belum mencapai titik temu dan kemacetan terus berlangsung hingga menjadi momok lalu lintas.”Saat inilah ada kesepakatan bersama masyarakat mau membebaskan lahannya, syukur Alhamdulillah saya sampaikan terima kasih kepada pemilik lahan yang merelakan lahannya untuk dibebaskan,” kata Irwan Prayitno.

Menanggapi itu, Bupati Tanah Datar Irdinansyah Tarmizi mengatakan pihaknya telah menyiapkan dana dari APBD kabupaten Rp 4,7 miliar untuk pembebasan lahan masyarakat yang akan digunakan untuk perluasan pasar ke bagian belakang.

“Ada empat orang warga dari dua kaum tanahnya yang telah dibebaskan yaitu Syahnidar dan Sumarmi dari kaum Datuak Garang Suku Koto Tibalai, kemudian Yasni dan Ida Cs kaum Datuak Tungga Nan Itam Suku Pisang,” jelas Bupati Irdinansyah.

Terkait pembangunan pasar tersebut, Kepala Dinas KUKM Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Tanah Datar, Marwan, SE memastikan, tahap pertama dibangun jalan di depan pasar selebar enam meter, pembangunan jalan masuk dan keluar pasar, pematangan lahan miring di bagian belakang pasar yang kemudian dibangun untuk dua unit gudang bongkar muat seluas 3500 meter persegi.

Pembangunan tahap pertama adalah pembangunan satu per tiga dari rencana pembangunan pasar. Meski baru satu per tiga, namun diyakini langkah itu akan menjadi solusi kemacetan karena bongkar muat tidak lagi di depan pasar melainkan dipindah ke bagian belakang pasar.

BACA JUGA:  Jembatan Mapattunggul Mengancam Nyawa, Yulisman Minta Pemkab Prioritaskan Pembangunannya

“Pembangunan pasar nagari Koto Baru, mulai dilaksanakan dengan menelan biaya sebesar Rp13,6 miliar yang berasal dari APBD provinsi..Ditargetkan selesai pada akhir 2019,” jelasnya.

Sementara untuk pembebasan lahan, DED, UKL-UPL ANDAL LALIN, dialokasikan sebesar Rp 4,7 miliar dari APBD Tanah Datar. ” Namun secara keseluruhan pembangunan pasar membutuhkan biaya Rp 28,9 miliar,” tambahnya.

Kata Marwan, ada dua pekerjaan besar dalam penyelesaian masalah kemacetan di Koto Baru, yakni pembangunan kembali pasar nagari yang digeser ke belakang dan pembangunan jalan

Pemerintah berencana memindahkan sebagian bagian Pasar Koto Baru yang ada saat ini, ke bagian belakang lokasi pasar di atas lahan seluas 2 hektare. Langkah ini bertujuan untuk mengurai kemacetan yang selama ini kerap terjadi di jalan lintas Sumatra yang melalui lokasi pasar.

Sumber : Relis Humas Prov Sumbar

Editot    : Melatisan

Loading...
loading...