Mengenal Calon Bupati dan Wakil Bupati Dharmasraya, Panji Mursyidan dan Yosrisal.

Dharmasraya
Pasangan Panji-yos turun langsung ke tengah masyarakat.

Beritanda1 – Pada tulisan sebelumnya, telah kita kupas kehidupan Calon Bupati Dharmasraya, mulai dari lahir, hingga kehidupan terkini .

 

Maka, tulisan kali ini, mari kita simak dan kita kubak lebih detil, siapa sebenarnya Yosrisal. S. Sos, sosok calon Wakil Bupati Dharmasraya, pendamping Panji Mursyidan. SE. MM, diajang kontestasi Pemilihan Kepala Derah (Pilkada) Dharmasraya 9 Desember 2020 mendatang.

Sosok anak kampung berada di wilayah selatan Dharmasraya, tepatnya di Padang Bungur, Abai Siat, lahir dari rahim seorang ibu tangguh bernama Wardiana, 2 Agustus 1975 silam. Anak pertama dari 4 bersaudara itu, diberi nama Yosrisal, merupakan hasil cinta kasih bersama suaminya Alisman.

Dalam perjalanan hidup, Yosrisal sang politisi tangguh ini, tidak begitu beruntung seperti anak-anak kebanyakan. Sebagai petani, kedua orang tuanya, hanya memiliki penghasilan terbilang pas-pasan. Namun, tidak mengurangi rasa syukur kepada Allah SWT, atas nikmat didapatkan. Apalagi nikmat atas diberinya momongan pertama, yang menjadi “Ubek Jariah Palarai Damam.”

Demi mencukupi kebutuhan anak pertama dan istrinya, Alisman rela bekerja apa saja. Sebagai petani, tentu tidak mengenal lelah. Berangkat pagi pulang petang, pagi pergi menderes karet, siang mencari kayu api. Begitu benar pekerjaan dilakoninya saban hari.

Haripun berganti dengan pekan, disambut datangnya bulan, dan tahun pun berobah. Anak yang sebelumnya kecil mungil di gendong kesana kemari, sekarang sudah tumbuh besar, dan sudah berumur 7 tahun. Dari sana, awal mula, kepedihan dan kepiluan hati, amat sangat dirasakan. Gundah gulana berkecamuk didalam dada.

Sesak rasanya nafas alang kupalang, anak kesayangan sekarang sudah usia sekolah. Namun di rogoh kantong hanya pas-pasan untuk membeli kebutuhan dapur. Sementara, kebutuhan sekolah anak juga sangat penting, mulai dari membeli baju seragam, beli buku, hingga kebutuhan lainnya.

Dengan memiliki keyakinan atas pertolongan Allah SWT, serta semangat yang tidak pernah kendor, pasangan Alisman dan Wardiana ini, membulatkan tekat untuk mengantarkan anaknya Yosrisal, masuk ke sekolah SD Inpres Padang Bungur, Abai Siat. Atas doa ketulusan kedua orang tua, akhirnya Yosrisal mampu menuntaskan pendidikan dasar pada tahun 1988, dengan tidak pernah melepaskan peringkat kelas.

BACA JUGA:  Dari Gedung Museum Nasional, Helat Akbar Kebudayaan Festival Pamalayu Ditabuh Hingga Januari 2020

Melihat, semangat belajar anak tercinta, menjadi sebuah kebanggaan bagi kedua orang tua. Namun dibalik kegembiraan terselip rasa pilu, dan gumaman kepedihan hati. Kenapa tidak, problema kehidupan kembali menerpa. Disaat anak kebanggaan lulus dengan peringkat terbaik. Namun untuk melanjutkan ke tingkat diatasnya, tentu harus kembali merogoh kucek. Baik untuk membayar uang masuk, hingga membeli pakaian sekolah. Belum lagi pemikiran untuk membayar SPP setiap semester.

Demi anak, tentu apa saja tetap dilakukan orang tua. Walaupun harus ngutang kesana kemari. Dengan memperlihatkan muka gembira, tanpa terbetik sedikitpun rasa sedih dihadapan anak kesayangannya. Kedua orang tua itu, mengantarkan anaknya melamar di SMP Negeri 1 Koto Besar. Selama Tiga tahun menuntut ilmu di sekolah tingkat pertama, akhirnya Yosrisal dinyatakan lulus pada tahun 1991.

Rasa gundah kembali menyelimuti wajah sang ibunda, namun semangat sang suami sebagai tulang punggung keluarga tidak pernah kendor. Selesai Shalat Maghrib ketika itu, Alisman menghibur istri tercintanya Wardianah, sembari berbisik-bisik kecil,

” Jangan risau, dan jangan ragu akan janji Allah SWT kepada umatnya. Jangan sampai pupus harapan anak sulung kita dalam menimba ilmu. Selagi ada kemauan untuk bekerja keras dan berdoa, Allah SWT pasti akan memberikan jalan terbaik bagi umatnya,” begitulah cara Alisman menghibur sang istri kala itu.

Mendapat wejangan dan energi positif dari suami tercinta. Sang ibu tangguh itu, seakan mendapat energi berlipat ganda. Sehingga semangatnya juang timbul seketika itu juga. Spontanitas Ia langsung berucap,

“Besok pagi saya juga ikut pergi menderes karet, dan mencari kayu api. Agar dapat lebih banyak, supaya anak kita Yosrisal, dapat melanjutkan sekolah ke tingkat atas,”

Singkat cerita. Selesai Shalat Subuh, pasangan suami istri ini, kompak menuju kebun untuk menderes karet bersama, dan selesai menderes, mereka langsung mengambil kayu bakar, dengan hasil hampir tiga kali lipat dari sebelumnya. Melihat hasil didapatkan saat itu, senyum sumringah, dan rasa bahagia tersungging di bibir pasangan harmonis ini.

BACA JUGA:  Putus Mata Rantai Penyebaran Covid 19, Sebanyak 502 Orang Pegawai Dilingkungan Pemkab Dharmasraya Jalani RDT

Dua hari setelah itu, tepatnya hari Senin, Yosrisal, bersama kedua orang tuanya berangkat ke SMA Negeri 1 Koto Baru, untuk mendaftar sebagai pelajar baru disekolah tingkat atas tersebut. Sebagai pelajar baru, tentu segala administrasi dan keuangan diselesaikan. Karena sudah memiliki persiapan, tidak ada kendala berarti saat menimba ilmu. Akhirnya cerita Yosrisal mampu menuntaskan pendidikan formalnya di SMA Negeri 1 Koto Baru pada tahun 1994.

Memiiki cita-cita cukup tinggi, menjadi pejabat bidang sejarawan. Yosrisal membulatkan tekad untuk melanjutkan pendidikan di Universitas Andalas (Unand) jurusan sejarah. Pada semester pertama, kedua dan ketiga, perjalanan kuliahnya berjalan dengan mulus, tanpa ada kendala berarti. Akhirnya, masuk semester ke Empat, paceklik ekonomi kembali melanda keluarganya.

Gumam tangis pilu sang ibu, dan ratapan ayah tidak bisa terbendung lagi. Anak sulung kesayangan, yang sedang menjalani pendidikan dibangku kuliah harus, berhenti total. Dikarenakan tidak mampu membayar uang semester. Memang pilu, perih, miris rasanya hati bagai di sayat-sayat sembilu. Rasanya, tak kuasa untuk menyampaikan luka ini kepada anaknya. Namun apa boleh buat, memang kenyataaan harus diterima. “Allah kuasa, makhluk tak kuasa.”

Bagaikan disambar petir disiang hari, mendengar kabar bahwa, dirinya harus pulang ke kampung dan menghentikan proses kuliah yang menjadi harapan untuk membanggakan orang tua. Dikala itu, Yosrisal menangis tidak henti-hentinya. Air mata pun turun tidak pernah teduh, namun kenyataan pahit itu tetap di terima. Keesokan hari, Yosrisal langsung menemui dekan, dan meminta petunjuk sembari menjelaskan segala problema terjadi. Maka saat itu, dikeluarkan surat masa cuti kuliah oleh pihak fakultas.

Harapan Yosrisal awalnya pulang dengan membawa ijazah S1, namun sekarang hanya membawa selembar surat cuti kuliah. Selama dalam perjalanan pulang, gundah gulana menyelimuti relung hati. Sesekali air mata juga tumpah, membasahi bungkusan kecil yang ada di pangkuan.

BACA JUGA:  Bupati Hendrajoni, Meski Hari Libur Tetap Dekat Dengan Masyarakat

Sesampai di rumah, Yosrisal disambut dengan isak tangis pilu sang ibu. Sesekali ayah harus membuang muka, karena tidak tahan melihat penderitaan dirasakan anaknya saat itu. Untuk menghilangkan rasa sedih berkepanjangan, sang ayah langsung pergi mengambil Wudhu, dan melaksanakan Shalat Ashar.

Melihat sang ayah menunaikan kewajiban, langsung diiringi oleh Yosrisal untuk mengambil Wudhu, sembari melepaskan pelukan sang ibu yang melahirkannya.

Saat sujud terakhir, tangis ayah dari 5 orang anak itu, kembali pecah, sembari memohon kepada Allah agar dilancarkan cita-citanya yang saat itu kandas ditengah jalan, akibat pahitnya ekonomi menghimpit keluarganya.

Senja pun berlalu, hingga malam menjelang. Mata pun tak mau lelap. Pikiran menerawang kesana kemari. Hampir waktu subuh datang, pemikiran mulai tenang. Entah petunjuk datang dari Allah, sehingga dirinya membulatkan tekad untuk membantu orang tua menderes karet, dan mencari kayu bakar.

Kita tinggalkan kesedihan, karna air mata penulis juga tidak bisa di bendung, keluar dengan sendirinya. Kita masuk asal muasal dari kesuksesan calon Wakil Bupati Dharmasraya Yosrisal. S. Sos.

Reporter: Syaiful Hanif

Facebook Comments

loading...