Melaju di Bursa Pilgub, Gusmal: Insya Allah, Akan Ada “Kendaraan” Menuju Sumbar

Pilgub
H. Gusmal

Beritanda1 – Sebenarnya tidak mengejutkan benar ketika nama bupati Solok H. Gusmal melaju cepat di bursa pemilihan kepala daerah Sumatera Barat. Selain sebagai pamong senior dan sekaligus politisi yang matang, ia, karena kapebelitasnya sebagai kepala daerah, tentu sangat laku “dijual” dalam bursa Pilkada serentak tahun 2020 nanti.

 

Atas faktor kepemimpinan Gusmal, sangat tidak mengejutkan  pula ketika namanya cepat melekat di memori masyarakat sebagai pemegang kendali pemilihan dalam helat demokrasi lima tahunan di Sumatera Barat (Sumbar).

Justru yang mengagetkan banyak orang, laksana sebuah iven balapan, ketika kontestasi lain telah berlari jauh melakukan beragam sosialisasi dan pendekatan dengan berbagai tanda gambar sebagai pernik Pilkada, bupati Solok dua periode itu baru menyatakan serius maju ke Pimiluhan Gubernur beberapa hari belakangan.

Terlambat? Menurut ketua LKAAM Kabupaten Solok itu tidak. Tidak ada yang terlambat. Malah ia menegaskan timingnya sangat pas, saat dimana tidak ada kandidat Gubernur lain yang berdomisili  di Solok yang betul-betul serius maju.

” Iya, Saya serius maju di Pilgub Sumbar,” tegasnya dikonfirmasi Kamis (9/7) di Arosuka.

Tentu bukan tanpa analisa tokoh adat yang bergelar Datuak Rajo Lelo itu memutuskan langkah politiknya. Apalagi dengan kondisi politik hari ini masih sangat dinamis dan bergerak dari seluruh pintu “angin”, membuka intuisi suami Desnadevi itu pada satu celah untuk berkiprah di tingkat provinsi Sumbar.  Paling tidak peluang itu ada di partai Golkar sebagai kendaraan politik yang akan mengantarkan Gusmal ke boksstar Pilkada. ” Dinamis sekali hari ini. Masih sangat terbuka bagi kita melakukan komunikasi -komunikasi politik dengan siapa saja dan dengan partai apa saja untuk membangun kesepahaman,” tuturnya.

BACA JUGA:  Tokoh Peduli Penyandang Disabilitas Tingkat Sumbar Itu Bernama Yulidarti

Gusmal mengaku tidak sedang menerawang, bahkan dirinya memiliki kalkulasi sendiri untuk mengukur eskalasi politik di Pilgub Sumbar. Malah dengan potret konstelasi sampai menjelang pendaftaran ke KPU, dirinya masih sangat optimis melakukan langkah-langkah politis. ” Insya Allah, akan ada “kendaraan” yang akan mengatarkan kita sebagai Calon Gubernur Sumbar,” tambahnya optimistis, namun tetap dengan aura rendah hati.

Menarik narasinya kebelakang, Gusmal menyebutkan, semula memang tidak berniat maju di Gubernur Sumbar. Alasannya,  masih melihat ada tokoh dari Solok Raya yang ingin maju pula, sehingga dirinya tidak ingin menjadi kompetitor dan terkesan menghalangi kawan-kawan. ” Awalnya saya pikir,  biarlah mereka saja yang maju asalkan ada kandidat dari Solok Raya,”ucap Gusmal.

Tetapi ketika nama tokoh lain berangsur redup dari bursa dan tidak menunjukkan progres yang nyata, saat yang sama dirinya diundang perantau Solok datang ke Jakarta, hingga memunculkan dirinya maju di Pilgub Sumbar. “Perantau Solok yang “memaksa” saya agar ikut di  pemilihan Gubernur sebagai perwakilan dari Solok Raya,”kata Gusmal.

Kelakuannya, sebagai jawaban atas desakan tokoh tokoh perantau Solok, Gusmal juga sudah sering dihubungi oleh Ketua DPD Golkar Sumbar Khairunnas,  termasuk sejumlah pengurus DPD Golkar Sumbar melakukan komunikasi  sebagai bentuk dukungan agar maju di Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur.

Beranjak dari sana, tokoh senior yang memulai karier pemerintahannya dari bawah itu,  memulai mensosialisasikan diri maju di Pilgub Sumbar dengan memasang baliho dan spanduk di sejumlah tempat di  Kawasan Sumatera Barat.

Modal Sosial

Momentum Pemilukada sejatinya sebagai suatu keinginan untukmendapatkan seorang pemimpin atau Kepala Daerah yang handal, berintegritas, memiliki komitmen yang tinggi, dipercaya oleh masyarakat dan mampu membawa

BACA JUGA:  Wow, Lisda Hendrajoni Raih Dua Penghargaan Dari Pusat Rekor Indonesia

perbaikan kongkrit dalam kehidupan masyarakat.

Dengan demikian, pemilihan Gubernur -Wakil Gubernur juga menuntut suatu proses yang fair, adil dan terbuka, tetapi tentu bukan tanpa modal. Modal utama yang menjadi kekuatan Gusmal, selain masalah geopolitik, Gusmal juga kaya dengan modal sosial. Karena itu, dalam konteks Pemilukada, modal finansial tidak melulu menjadi ukuran ketika “rasa” masyarakat pemilih telah diikat dengan modal sosial.

Tentu tidak menafikan masalah keuangan dalam proses pilkada, tetapi kekuatan finansial dapat dikonversikan pula dengan investasi sosial. Gusmal memiliki itu. Ia optimistis karena maju sebagai balon Gubernur Sumbar karena  aromanya sudah mengakar di masyarakat.

Tidak hanya dikalangan pemilih dari Solok Raya, rasa bahwa tokoh adat asal nagari Guguak, kecamatan Gunung Talang, Kabupaten Solok ini dipandang mampu memimpin Sumatera Barat, diyakini mengalir bak Batang Lembang hingga ke aliran Batang Hari. ” Masyarakat hari ini sudah sangat cerdas dalam memilih pemimpin. Karena alasan itu, saya optimis sekali, bahwa modal sosial akan lebih dipandang sebagai investasi,” ujar Gusmal.

Modal sosial itu, sebagai tokoh adat yang telah dua kali menjadi ketua LKAAM, sekurangnya telah ditunjukkan dalam menghangatkan peradaban berlandaskan falsafah Adat badandi Syarak-syarak Badandi Kitabullah (ABS-SBK) di Kabupaten Solok. Kemudian mengembangkan metoda pendidikan Sekolah Umum berbasis pesantren, disamping berhasil mengelola sistim kepemerintahan yang baik dan akuntabel, selaras dengan visinya sebagai Bupati Solok periode 2015-2020.

” Ketika diberi amanah oleh masyarakat menjadi Gubernur nanti, program-program yang  berkaitan dengan peningkatan Pendidikan, ekonomi dan Kesehatan serta menghangatkan peradaban ini, akan kita tarik ke tingkat Provinsi guna menumbuhkan Kesejahteraan Masyarakat Sumbar,” sebutnya.

Facebook Comments

loading...