Lamang, Kuliner Tradisional Menjadi Sumber Perekonomian Uni Dewi Salayo Dimasa Pandemi

Beritanda1 – Di masa pandemi Covid-19, masyarakat seperti “dipaksa” untuk lebih kreatif dalam mencari sumber perekonomian¬† dengan beragam usaha alternatif.

 

Tersebab itu, bermacam pula sumber usaha yang dapat dilakukan masyarakat untuk survive dimasa sulit ini.

Setidaknya, kreatifitas yang dilakukan Tanti Dewi (41) atau yang akrab dipanggil Dewi, warga Katapiang, Jorong Batu Palano, Nagari Selayo, Kabupaten Solok, saat ini mampu menjadi pegangan untuk tetap menghidupkan ekonomi keluarga. Apalagi, sejak
suaminya tidak ada pekerjaan lagi karena terdampak virus Corona.

Sumber
Kuliner tradisional lamang menjadi sumber perekonomian Dewi Salayo dalam masa Pandemi Covid 19

Ditengah kegalauan untuk menghidupi keluarga itulah, Dewi kemudian menemukan jalan yang yang disangka-sangka, yakni usaha membuat lemang, atau orang setempat menyebutnya Lamang, menjadi tumpuan ekonomi keluarganya.

Awal mula ibu empat anak ini melakoni usaha membuat lemang, disebutkan selepas lebaran 1441 Hijriah atau tahun 2020. Saat itu, dirinya membuka-buka media sosial Facebook. Muncul dalam beranda kenangannya, postingan lemang tahun lalu.

“Saat itu, saya bagikan kembali postingan soal lemang di Facebook, dan ternyata ada yang minat. Pesanan awal sekitar 10 batang dan saya buatkan sesuai pesanan,” ungkap Dewi, Jum’at (28 Agustus 2020)

Sejak saat itu, Dewi berpikir serius untuk fokus usaha lemang, apalagi masa-masa sulit itu, dirinya dan suami sedang tidak ada pekerjaan. Sementara mereka harus menghidupi empat anak dan orang tua.

Dari pesanan pertama yang dibuatkan Dewi, pelanggan tersebut merasa puas dan memesan lagi, sampai 15 batang hingga 25 batang. Lemang buatan tangannya mulai diketahui oleh masyarakat hingga ke perantauan.

“Sejak saat itu, saya putuskan untuk fokus usaha membuat lamang. Memang kalau dipikir-pikir, membuat lamang cukup sulit. Tapi karena desakan hidup dan dijalani dengan ikhlas, terasa ringan saja,” ungkapnya.

BACA JUGA:  Bawaslu Pessel Larang Paslon Kada Libatkan Wali Nagari Dalam Politik Praktis

Beragam jenis lamang dibuat oleh Dewi bersama suami dan anaknya di kediamannya di Nagari Selayo. Mulai dari lemang beras pulut (ketan) hitam, Beras pulut putih, lemang Ubi, lemang Pisang dan lemang tapai.

Untuk membuat lemang, butuh waktu pengerjaan yang tidak gampang serta waktu yang cukup lama. Diawali dengan menebang buluh atau bambu (talang) yang dibeli kepada masyarakat sekitar. Kemudian mencari daun pisang dan proses lainnya.

“Kalau dari awal proses pembuatan sampai matang, butuh waktu sekitar 6-7 jam, dan tidak bisa ditinggal begitu saja, harus dijaga api dan di putar agar matangnya merata dan tidak hangus,” bebernya.

Untuk harga jual, lemang beras pulut hitam dan putih dijual 65 ribu rupiah per batang, lemang beras pulut campur pisang 60 ribu rupiah per batang dan lemang ubi jalar 50 ribu per batang.

Sumber
Uni Dewi Salayo tengah menggeluti pengolahan Lamang sebagai sumber perekonomian keluarga

Manfaatkan Media Sosial

Adanya Pembatasan Sosial Berskala Besar waktu memulai usahanya, membuat istri dari Roni tersebut berinisiatif untuk mempromosikan produknya secara online. Salah satunya melalui aplikasi Facebook

“Saya posting ke group-group Facebook, dan juga beranda sendiri dengan menandai teman lainnya, Facebook sangat membantu saya untuk memasarkan lemang buatan saya,” jelas anggota RAPI Kabupaten Solok itu.

Hingga kini, pesanan lemang buatan Dewi tidak saja berasal dari daerah kabupaten dan kota Solok saja, namun sudah merambah pasar nasional. Pesanan datang dari Jakarta, Jambi, dan Pekanbaru hingga Padang.

Permintaan lemang buatan Dewi terus meningkat dari waktu ke waktu, mulanya hanya 10 batang, sekarang sudah sekitar 25 hingga 30 batang per minggu atau lebih 100 batang per bulan.

“Banyak juga pesanan yang datang dari daerah jauh, tapi kita masih ragu karena takutnya terlambat saat pengiriman, bisa basi, makanya kita pilih yang dekat dan cepat saja dulu,” terangnya.

BACA JUGA:  Salah Kebijakan, Pembangunan RSUD M. Zein Painan Tak Dilanjutkan

Saat ini, Dewi masih sedikit terkendala dengan daya tahan lemang yang memang cukup singkat, hanya sekitar 3 hari, terutama lemang beras pulut campur pisang dan ubi. Makanya Dewi memastikan pengiriman bisa secepat mungkin.

Untuk pemesanan, perantau dan masyarakat daerah lainnya yang suka makan lemang bisa menghubungi langsung uni Dewi Telpon : 0823 8335 0078 atau pesan WhatsApp di nomor 08877491394.

Sebagai panganan khas Minang, memang lemang cukup susah ditemui dan biasanya hanya dimasak pada hari-hari besar seperti lebaran, hajatan atau acara adat lainnya. Biasanya, perantau Minang suka lemang untuk melepas rindu terhadap kampung halaman.

“Selain itu, saya juga senang membuat lemang karena ikut merawat atau melestarikan panganan khas daerah Minangkabau,” tutupnya.

Reporter: Adi

Facebook Comments

loading...