Kodim 0311/Pessel Padamkan Kebakaran di Lunang Dengan Peralatan Seadanya

7
Tim Gabungan, BPBD, TNI, POLRI dan Masyarakat memadamkan api kebakaran lahan di Lunang dengan peralatan seadanya

PAINAN–Komandan Distrik Militer (Dandim/0311) Kabupaten Pesisir Selatan bersama personil Koramil 01/Pancung Soal dan unit Inteldim melakukan pemadaman api di lokasi perkebunan masyarakat di Kecamatan Lunang. Lahan yang terbakar merupakan Hutan Konservasi Produksi (HPK), Minggu (11/8).

Dandim 0311/Pessel Letkol Kav Edwin Dwiguspana, M.Tr (Han) menyebutkan, lokasi kebakaran hutan berada pada area HPK. Sebab, sebagian besar merupakan lahan gambut dan sangat sulit untuk mendeteksi dan memadamkan api.

“Ya, lokasi yang terbakar merupakan lahan gambut sehingga sangat sulit mencari titik api. Pihak kami hanya mampu mendeteksi asap saja, itupun dengan peralatan seadanya seperti ranting dan daun-daun kayu,” ujar Dandim pada wartawan.

Selain itu, lanjut Dandim, beratnya medan yang dilalui menuju lokasi kebakaran tidak memungkinkan untuk membawa peralatan pemadaman api. Namun, ia mengaku tetap melakukan koordinasi dengan pemerintah daerah melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) untuk melakukan pemadaman api dilokasi kebakaran tersebut.

“Benar, pihak kami terus melakukan kordinasi dengan BPBD dan dinas terkait lainnya untuk melakukan pemadaman, sehingga titik api tidak menjalar ke tempat lain,” katanya.

Terkait kebakaran lahan tersebut, ia menghimbau kepada masyarakat yang akan membuka lahan baru, agar tidak melakukan hal-hal yang salah apalagi dengan cara membakar. “Kami ingatkan pada masyarakat agar tidak membakar hutan untuk membuka lahan baru. Jangan jadikan hal ini sebagai kebiasaan, karena dampaknya tidak saja bagi pemilik lahan, namun berakibat fatal bagi kita semua,” ucapnya mengingatkan.

Sebelumnya, Kesatuan Pengelola Hutan Produksi (KPHP) Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat mencatat seluas 500 hektare lebih terjadi kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di daerah itu.

Kepala UPTD KPHP Pessel, Mardianto menyebutkan, kebakaran hutan dan lahan terjadi diantaranya pada Agustus 2018 dengan luas mencapai 437,97 hektare, sedangkan pada Juli dan Agustus 2019 tercatat seluas 13 hektare.

BACA JUGA:  Polres Solok Ringkus Sindikat Curanmor Spesialis L300 Lintas Provinsi

“Ya, secara keseluruhan berada pada kawasan rawa-rawa. Modusnya untuk pembukaan lahan baru,” ujarnya pada wartawan beberapa waktu lalu.

Menurut dia, jika dilihat dari tingkat kejadian Karhutla di Sumatera Barat, maka Kabupaten Pesisir Selatan termasuk peringkat ke tiga paling rawan terjadi kebakaran setelah Pasaman Barat dan Dharmasraya.

“Sebab, sebagian besar lahan sudah dikuasai oleh masyarakat. Hingga kini lahan dan hutan yang terbakar tercatat pada angka 59.928,94 hektare atau sekitar 40 persen,” katanya.

Mardianto mengaku, sejauh ini pihaknya sudah bertindak aktif dalam pencegahan Karhutla di daerah itu, diantaranya seperti pembentukan Brigade Pengendalian Karhutla serta pembinaan masyarakat peduli Api.

“Untuk pencegahan memang harus ditangani sejak dini. Sebab, ini merupakan program dari dinas kehutanan. Pihak kami juga rutin melakukan Bimtek,” ucapnya.

Sementara itu, untuk penanganan dan pencegahan ia meminta seluruh pihak ikut terlibat. Sebab, dampak kebarakan adalah resiko bersama dan harus menjadi tanggungjawab bersama pula.

“Secara aturan, setiap orang dan setiap pihak bertanggung jawab. Tidak hanya kami, Pemkab dan masyarakat juga harus ikut mengawasinya. Luas berkisar sekitar ± 50 hektar. Penyebab kebkaran untuk sementara masih dalam penyelidikan,” tuturnya

Reporter: OKIS ROCKIN

Editor: MALIN MARAJO

Loading...
loading...