Kisah Korban Wamena Papua: “Amai, Kami Ingin Pulang” (1)

PAINAN–Sebuah teras rumah berlantaikan keramik beratap seng terletak di tepi sawah yang baru saja dipenuhi pelayat. Tak jauh dari sana terlihat seorang perempuan setengah baya kurus duduk di sofa lusuh dekat pohon kelapa. Matanya sembab berkaca-kaca sembari terisak-isak, ia terus saja menangisi kepergian tiga anak dan seorang cucunya yang meninggal dalam kerusuhan di Wamena, Papua.

Perempuan itu adalah Raulis 65 tahun. Tiga anaknya adalah Syafrianto K 36 tahun, Japriantoni 24 tahun, dan Hendra Eka Putra 22 tahun dan cucunya adalah Riski 3,5 tahun. Sementara istri Syafrianto, menantunya bernama Putri 30 tahun hingga kini dalam keadaan kritis dan harus menjalani perawatan intensif di rumah sakit umum daerah Jayawijaya.

Hal ini bermula saat demonstrasi berakhir rusuh di Wamena, Senin, 23 September 2019, massa membabi buta membakar toko Syafrianto. Semua terjebak di dalamnya, kecuali Putri yang berhasil melompati jendela. Namun sungguh tragis, dalam pelariannya Putri dibacok perusuh. Dua hari sebelum kejadian itu, Syafrianto menelepon Raulis, “Amai, kami ingin pulang.”

Amai adalah bahasa daerah Minang Kabau yang artinya ibu. Raulis menceritakan telepon terakhir anaknya itu kepada wartawan Jumat, 27 September 2019. Raulis, ibu 10 anak itu menitikan air mata mengenang peristiwa yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Telepon itu menjadi pesan terakhir baginya, artinya anaknya pamit untuk selamanya, dan berpulang menghadap Yang Maha Kuasa.

Penulis : OKIS ROCKIN

Facebook Comments

BACA JUGA:  Didominasi Barisan Amak-Amak, Deklarasi Boris - Adang Banjir Dukungan
loading...