Beranda Pendidikan Irwandi Nashir: Proses Pendidikan Masih Tajam Sebelah

Irwandi Nashir: Proses Pendidikan Masih Tajam Sebelah

Irwandi Nashir
Irwandi Nashir

Beritanda1— Penggiat integrasi IPTEK dan IMTAQ dari IAIN Bukittinggi H. Irwandi Nashir mengungkapkan, proses pendidikan kita masih bercorak  tajam sebelah yang ditandai dengan kuatnya corak dikotomi dalam pembelajaran.

“Dikotomi atau memisahkan antara Ilmu Pengetahuan dan Teknologi  (IPTEK) dan Iman dan Taqwa (IMTAQ )  masih mewarnai proses pembelajaran terutama di sekolah dan madrasah,” kata H. Irwandi Nashir.

Dosen IAIN Bukittinggi ini menyebutkan, kondisi ini tak lepas dari menguatnya cara pandang yang memisahkan ilmu dalam rumpun ilmu umum dan ilmu agama. Apalagi, sambungnya, munculya paham yang disebut dengan deisme turut menghambat upaya integrasi IPTEK dan IMTAQ dalam pembelajaran.

“Paham ini  menyakini alam ini awalnya diciptakan oleh Tuhan, tapi setelah itu Tuhan tak lagi mengurusi alam ini. Jadi, mirip seperti pembuat jam yang tak lagi mengurusi jam usai membuat jam,” jelasnya.

Akibat langsung dari dikotomi dalam pembelajaran, lanjut Irwandi, adalah  keringnya  jiwa peserta didik  dengan siraman ayat-ayat Allah Ta’ala saat mereka mempelajari ilmu yang terlanjur disebut sebagai ilmu umum. Disisi lain, peserta didik   juga belum mendapatkan pengayaan wawasan tentang sains dan teknologi saat mereka mempelajari ilmu agama.

Irwandi Nashir menegaskan, integrasi  IPTEK dan IMTAQ  dalam proses pembelajaran adalah sebuah keniscayaan. Menurutnya,  program integrasi IPTEK dan IMTAQ ini telah lama ada di Indonesia.

Bahkan, tahun 1996 pernah diedarkan silabus integrasi IPTEK dan IMTAQ  untuk 11 mata pelajaran, tetapi gagal dalam proses pembelajaran. Penyebab utamanya, sambungnya,  adalah  rendahnya pengetahuan agama  guru-guru umum sehingga membuat mereka tidak mampu menarasikan dan mengembangkannya dalam pembelajaran.

Alumni MAN-MAPK Kotobaru Padang Panjang ini menjelaskan, integrasi IPTEK dan IMTAQ dalam pembelajaran dapat dilakukan dengan strategi  saling dukung, meluruskan, dan pendekatan filosofis.

BACA JUGA:  Bupati Hendrajoni: Guru Jangan Paksakan Kehendak Kepada Siswa

“Strategi saling dukung dilakukan ketika temuan sains dapat mengungkap makna yang ada di dalam ayat-ayat al-Qur’an. Apalagi, al-Qur’an mengandung 170 ayat tentang alam semesta yang memerlukan riset ilmiah untuk menggali pesan yang terkandung di dalamnya,” terang trainer senior Lembaga Edukasi Karakter Bangsa ini.

Irwandi Nashir menjelaskan prinsip meluruskan diterapkan ketika ditemukan materi pelajaran yang berseberangan dengan prinsip-prinsip syari’at Islam yang bersumber dari al-Qur’an dan Hadits.

“Penerapan prinsip meluruskan ini menuntut pengetahuan agama yang luas dari guru-guru  dan kemampuan untuk menarasikannya secara komunikatif,” jelasnya.

Menurutnya, materi atau proses pembelajaran jika tidak ada pertentangan dengan  nilai IMTAQ dan juga tak ada yang dapat dijadikan sebagai dukungan peningkatan IMTAQ, maka strategi integrasi dilakukan dengan pendekatan filosofis, yaitu bahwa IPTEK tersebut bersumber dari ciptaan Allah Ta’ala yang sesuai dengan fitrah atau hukum keilmuan  yang berlaku.

Artikel sebelumyaSambut Ramadan, ACT Solok Luncurkan Program GSPR
Artikel berikutnyaKecelakaan di Pitalah, 3 Pelajar SD Tewas Ditabrak Bus Gumarang Jaya