Ingin Berqurban? Walikota Payakumbuh: Sembelih Hewan yang Jantan

Payakumbuh
Walikota Payakumbuh Himbau berqurban sembelih hewan jantan

Beritanda1 – Wali Kota Payakumbuh Riza Falepi menghimbau seluruh panitia qurban agar tidak menyembelih ruminansia (hewan memamah biak) betina produktif untuk Qurban.

 

Dikatakan, untuk penegakan Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2014 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan, Mabes Polri sudah mengadakan MOU dengan Kementerian Pertanian.

Didalam undang-undang itu, kata dia, disebutkan reminansia besar seperti sapi dan kerbau, dan ruminansia kecil seperti kambing dan domba yang masih produktif (masih bisa berkembang biak) dilarang keras untuk di sembelih.

Menurutnya, dalam UU Nomor 41 Tahun 2014 pasal 86 diatur sanksi pidana paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 3 (tiga) tahun dan denda paling sedikit Rp. 100.000.000 dan paling banyak Rp. 300.000.000.

“Beberapa waktu ke depan ini, penegak hukum perlahan masih akan menggunakan pendekatan yang soft terhadap masyarakat, “ papar Walikota Payakumbuh Riza Falepi kepada wartawan, Senin (6 Juli 2020).

Riza Falepi menyebutkan,  jika dalam penerapan Qurban masih hewan betina produktif yang dipotong, nanti yang mana lagi akan dikembangbiakan. Ia mengakui,  untuk memotong sapi jantan konsekuensinya memang  harga Qurban menjadi naik.

“Kalau untuk menjalankan syariat agama, kenapa harus berhitung. Tujuannya agar menjaga ketersediaan daging dan kelestarian sapi local. Ini niatnya kan ibadah, jangan sampai melanggar hukum, kan undang-undangnya sudah ada,” kata Riza.

Dijelaskan, di luar Payakumbuh, orang sudah banyak memotong sapi jantan. Pihaknya  melihat, disini memang tergantung dari keseriusan pengurus mesjid untuk menerapkannya.

“ Setidaknya harga sapi jantan dan betina tidak begitu jauh lah. Kalau misalnya 1 sapi untuk 7 orang, maka masing-masing cuma menambah Rp. 200.000  kalau yang dibeli sapi jantan. Jadi kita harapkan kalau memang akan memotong yang betina, jangan sampai menyalahi aturan, harus dipastikan betul sapinya yang sudah tidak produktif lagi,” kata Walikota Payakumbuh.

BACA JUGA:  Bupati Hendrajoni Bantu Masjid Nurul Ulum Barung-Barung Belantai Rp25 Juta

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Kota Payakumbuh Depi Sastra didampingi Kabid Peternakan Sujarmen menyebut setelah berkoordinasi dengan para toke, mereka siap menjamin ketersediaan sapi jantan untuk Qurban tahun 2020 ini.

“Silahkan nanti panitia Qurban untuk membeli ke toke, mereka sudah kita sosialisasikan bahkan sejak beberapa tahun lalu, hingga sekarang kabar baiknya mereka sanggup memasok sapi jantan, dari data di dinas ada 22 toke yang terdata dan sanggup memenuhi kebutuhan kurban sapi jantan di Payakumbuh,” kata Depi Sastra.

Depi menerangkan, di Payakumbuh, tahun 2017 lalu sapi jantan disembelih hanya 6 ekor dan yang betina 1456 ekor. Pada 2018 sudah ada peningkatan penyemblihan sapi jantan menjadi 141 ekor dan betinanya 1760 ekor.

Fantastisnya, pada 2019 setelah dilakukan sosialisasi secara persuasif oleh Baharkam Polri dan dinas kepada panitia Qurban, telah terjadi peningkatan penyembelihan sapi jantan sebanyak 538 ekor dan 1041 ekor sapi betina.

“ Pada 2019 dari total sapi yang disembelih adalah 6 persen betina tak produktif dan 55 persen betina produktif,” jelasnya

Pelarangan memotong hewan kurban ruminansia produktif ini diharapkan kedepannya akan terus berlanjut, bukan tahun ini saja. Imbasnya ketersediaan sapi lokal di Indonesia bisa terus meningkat, sehingga apabila ketersediaan sapi banyak, maka kebutuhan lokal bisa terpenuhi tanpa impor sapi lagi.

Pihaknya menargetkan tahun 2020 ini terjadi peningkatan persentase sapi qurban jantan yang disembelih. Ia khawatir, kalau berlarut menyembelih sapi betina produktif, maka kedepan diprediksi akan susah dapat sapi lokal.

“ Konsekuensinya bisa saja import dan ini akan merugikan peternak lokal kita, makanya ada undang-undang yang mengatur,” paparnya.

Reporter: Diko Rahmad

Facebook Comments

loading...