Festival Pamalayu, Hadiah Klasik Kala Merayakan Dharmasraya

39
Festival Pamalayu Rayakan Dharmasraya

DHARMASRAYA – Menyambut hari kelahiran ke 16 tahun daerah berjuluk ” Cati Nan Tigo”, pemerintah Kabupaten Dharmasraya memberikan hadiah klasik  sepanjang sejarah dengan menggelar festival Pamalayu.

Pagelaran fetival Pamalayu dilaksanakan ini, menurut Bupati Dharmasraya Sutan Riska Tuanku Kerajaan, sekaligus  akan menjadi jawaban atas pertanyaan masyarakat terhadap nama daerah Dharmasraya yang terus menjadi buah tanya bagi warga di daerah itu.  Padahal dari beberapa contoh lain daerah mekar, mayoritas nama daerah menutup nama induk, seperti dua saudara kembarnya, yakni Solok Selatan, berarti bagian atau pecahan Kabupaten Solok, memiliki posisinya berada di sebelah selatan kabupaten induknya. Saudara lain, seperti Kabupaten Pasaman Barat yang juga membawa nama kabupaten induknya Pasaman.

“Seingat saya, dulu zaman kita berupaya memekarkan kabupaten, ada sejumlah nama yang disiapkan, antara lain Kabupaten Seiliran Batanghari, dan ada juga yang mengusulkan Kabupaten Sijunjung Selatan. Dari berbagai usulan yang muncul, maka mendapat persetujuan bersama diberi nama Kabupaten Dharmasraya. Hal ini, dapat diterima semua pihak,” ujar H. Abdul Haris Tuanku Sati, juga merupakan Rajo Pulau Punjung, sekaligus pelaku sejarah pemekaran Kabupaten Sawahlunto Sijunjung menjadi Kabupaten Dharmasraya di rumah dinas Bupati Dharmasraya, Kamis (15/8).

Ia juga mengaku ada sekilas tentang Dharmasraya. Menurutnya, Dharmasraya itu adalah nama kerajaan yang berpusat di wilayah Sijunjung bagian selatan, atau di seputaran Siluluak Sungai Lansek. “Kurang lebih sebatas itu,” sebut Ketua LKAAM Kabupaten Dharmasraya itu.

BACA JUGA:  Mulai 2020, AKN Pessel Tak Lagi Dibantu Kemenristek Dikti

Hal senada juga diungkapkan rajo Siguntur, Sutan Hendri Tuanku Bagindo Ratu saat kini menjabat sebagai Kepala Dinas Parbudpora Kabupaten Dharmasraya.

Setelah kabupaten kaya sumberdaya alam ini berusia 16 tahun, asal usul nama Dharmasraya kembali dipertanyakan. Belakangan, sekelomook anak muda, termasuk Bupati Sutan Riska Tuanku Kerajaan menggali sejarah tentang ekspedisi Pamalayu. Berbagai literatur dikaji dan didiskusikan secara informal, hingga sekelompok anak muda itu yakin, bahwa nama Dharmasraya itu memiliki sejarah besar terkait dengan strategi mempersatukan nusantara dan juga mengandung nilai nilai luhur perjuangan bangsa.

Untuk menggali nilai nilai luhur dan ragam budaya Dharmasraya, Pemkab Dharmasraya menginisiasi penyelenggaraan festival pamalayu. Festival pamalayu dikonsep menjadi festival terakbar di Provinsi Sumatera Barat. Diselenggakan selama tiga bulan lebih, dimulai dari pelaksanaan ekspedisi Pamalayu di abad pertengahan. Tepatnya 22 Agustus dan akan berakhir pada puncak ulang tahun Kabupaten Dharmasraya pada tanggal 7 Januari 2020.

Menurut Sutan Riska Tuanku Kerajaan, festival Pamalayu merupakan rangkaian kegiatan untuk menggali, mengkaji dan memanfaatkan sejarah Kabupaten Dharmasraya untuk mencapai kesejahteraan rakyat. Penggalian sejarah dilaksanakan dengan berbagai metoda, antara lain dengan menggelar lomba penulisan, poto dan pembuatan vlog terkait dengan sejarah Dhamasraya dan ekspedisi Pamalayu. “Siapa saja, pihak mana saja yang mengetehui sejarah Dharmasraya, mari kita ikuti lomba ini, sehingga kita akan memiliki referensi lengkap tentang Dharmasraya,” kata bupati termuda ini.

Tahap selanjutnya adalah pengkajian, dimana serangkaian tulisan, serangkaian referensi akan dikaji oleh pakar pakar sejarah, baik regional maupun internasional. Kajian ini akan dilengkapi dengan penggalian bukti bukti otentik yang kini tengah dikumpulkan oleh para arkeolog dan peneliti kepurbakalaan.  “Jadi cerita Dharmasraya yang bakal lahir akan dilengkapi dengan kajian sejarah dan bukti arkeologi. Dengan demikian bisa kita pertanggngjawabkan secara empirik  dan secara akademik,” pungkasnya.

BACA JUGA:  Drainase Tersumbat, Banjir Rendam Jalan Nasional dan Pemukiman Warga di Pessel

Reporter : S. Hanif

Editor     : Melatisan

Loading...
loading...