Bupati Hendrajoni Resmikan Objek Wisata Batu Kudo Terintegrasi Budidaya Ikan

Batu Kudo
Warga berswa foto di lokasi objek wisata Batu kudo di Nagari Taluk Tigo Sakato, Kecamatan Batang Kapas Pesisir Selatan

Beritanda1– Bupati Pesisir Selatan, Hendrajoni meresmikan objek wisata Batu Kudo yang pengelolaanya mengintegrasikan pariwisata dengan budidaya ikan air tawar di Nagari Taluk Tigo Sakato, Kecamatan Batang Kapas kabupaten Pesisir Selatan.

 

“Ya, inovasinya sangat bagus. Selain akan menambah pundi-pundi rupiah bagi pengelola, budidaya ikan air tawar juga bakal menambah daya tarik kunjungan wisatawan ke objek wisata ini,” ujar Bupati Hendrajoni disela-sela kunjungan ke Nagari Taluk Tigo Sakato, Kamis (17 September 2020).

Peresmian objek wisata Batu Kudo juga dihadiri anggota DPR RI Lisda Hendrajoni yang juga selaku Ketua TP PKK Pesisir Selatan, Forkopimca, perangkat nagari, dan sejumlah pejabat Balai Besar Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS), serta tokoh masyarakat setempat.

Menurutnya, Batu Kudo merupakan objek wisata alam yang menawarkan keindahan aliran anak sungai, air terjun, dan hijaunya hutan beserta satwanya. “Di sini lokasinya asri dan sejuk, jika dikelola dengan maksimal maka saya yakin kunjungan bakal ramai,” ucapnya.

Ia menyebutkan, kawasan Batu Kudo sudah lama dikenal oleh masyarakat sekitar, hanya saja baru dikelola sejak setahun terakhir.

Menurut cerita masyarakat setempat, Nama Batu Kudo atau Batu Kuda yang disematkan untuk kawasan tersebut, bermula dari legenda yang hingga kini masih begitu familiar bagi masyarakat di sana.

Legenda bermula ketika salah seorang warga yang bernama Malin Deman ingin membuka areal berladang di kawasan yang saat ini dijadikan objek wisata. Karena gerah dan kebetulan terdapat aliran anak sungai yang segar, ia pun berniat untuk mandi sejenak.

Ketika sedang mandi, samar-sama ia mendengar ada suara beberapa anak gadis yang juga sepertinya sedang mandi, dan diperkirakan tidak jauh dari lokasinya.

BACA JUGA:  Dibuka Wabup Yulfadri, 12 Klub Sepakbola Mulai Rebut Piala Wali Nagari Talang

Karena kondisi hutan yang masih lebat, ia seakan tidak percaya adanya anak gadis yang mandi di sana, akhirnya ia memberanikan diri melihat secara langsung.

Setelah dilihat ternyata tidak sesuai dengan perkiraan, mereka bukanlah anak gadis namun bidadari yang sengaja turun dari kahyangan untuk mandi di lokasi tersebut. Karena mereka berjumlah tujuh, akhirnya Malin Deman mengambil salah satu baju dari mereka.

Setelah para bidadari selesai mandi, mereka pun terbang menuju kahyangan, namun salah seorang dari mereka tetap tinggal karena kehilangan baju.

Akhirnya bidadari mendatangi perkampungan sekitar dan berjanji akan menikah dengan siapapun yang menemukan bajunya yang hilang.

Singkat cerita, akhirnya bidadari tersebut menikah dengan Malin Deman dan memiliki satu orang anak. Pada satu kesempatan ia akhirnya mendapatkan bajunya yang selama ini disimpan dengan rapi oleh suaminya.

Tak lama berselang ia langsung menuju anak sungai yang dulunya merupakan lokasi pemandian dan teman-temannya dari kahyangan.

Mendengar informasi tersebut, Malin Deman segera mengejar sang istri, agar cepat sampai ia pun menunggangi seekor kuda.

Sesampainya Malin Deman di lokasi, bidadari ternyata sudah bersiap untuk terbang ke kahyangan, karena jaraknya dengan Malin Deman sudah dekat sang bidadari akhirnya mengutuk kuda tunggangan Malin Deman sehingga menjadi batu.

Hingga saat ini, batu yang menyerupai kuda masih bisa dijumpai di lokasi tersebut, hanya saja kepalanya sudah tidak ada, sesuai informasi dari masyarakat sekitar hilangnya kepala kuda akibat dihantam aliran anak sungai.

Reporter: Okis Rockin

Facebook Comments

loading...