Aliran Sesat di Sumani Solok, Tak Percaya Nabi Muhammad Naik Haji Cukup ke Padang

aliran sesat
Aliran Sesat/ ilustrasi

Beritanda1 —Diduga aliran sesat, satu kelompok masyarakat di Nagari Sumani Kecamatan X Koto Singkarak Kabupaten Solok kini dalam pengawasan Badan Koordinasi Pengawas Aliran Keagamaan dan Kepercayaan  Masyarakat (Bakorpakem) setempat.

 

Kepala Kejaksaan Negeri Solok Donny Setiawan sebagai ketua Bakorpakem  menegasakan, kelompok ini diduga melenceng dari ajaran atau kepercayaan yang ada di Indonesia. Menyikapi itu, pihaknya sudah merapatkan dengan Bakorpakem seperti dengan Polres, Kodim, kemenag, Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB).

“Kami rumuskan kegiatan yang ada di sana. Kami upayakan dulu upaya prefentif (pembinaan) kepada kelompok tersebut. Supaya mereka kembali ke jalan yang sesuai syariat maka MUI yang turun,” ucap Donny Setiawan di Kantor Kejari Solok, Rabu 22 Juli 2020.

aliran sesat
Donny Setiawan

Ia mengatakan, MUI turun langsung karena hal itu menyangkut kepercayaan seseorang maka lembaga resmilah yang menjelaskan dalil-dalinya.

“Ini kan masalah kepercayaan, nah ahli kita kan MUI. Nah ini kami tunggu hasil rekomendasi dari MUI. Kalau mereka mengikuti anjuran dan kesepakatan maka bubarkan kelompoknya, selesai masalah karena tak lagi mengganggu ketertiban dan keresahan di tengah masyarakat,”ucapnya.

Kajari menegaskan, jika masih muncul atau menjalankan ajaran sesatnya, maka akan dilakukan tindakan represif atau penindakan hukum.

Sementara itu Kasi Intel Kejari Solok, Ulfan Yustian Alif, yang membawahi bidang intelijen menambahkan, saat ini perkembangan kelompok yang diduga aliran sesat tersebut masih sebatas keluarga dan tetangga. Namun, tidak tertutup kemungkinan ia bisa terus berkembang.

“Nah untuk itu kami terus mengawasinya. Karena ini juga meresahkan masyarakat. Dan kami juga masih memantau beberapa kelompok lainnya, tapi belum bisa kami berikan hasilnya,” ujarnya.

Menurut Ulfan, seorang guru dari kelompok tersebut yang dinamai guru besar berada di Padang. Untuk itu pihaknya juga berkordinasi dengan Bakorpakem Padang.

BACA JUGA:  Hasil Reses DPRD Dharmasraya Disampaikan Dalam Sidang Paripurna

“Karena ini sudah lintas sektor hokum, kami harus kordinasi dengan yang di Padang. Eksisnya kegiatan kelompok itu di Sumani sejak awal 2020 ini, ya masih baru di situ,” kata Ulfan.

MUI Putuskan Aliran Sesat

Terkait itu, Sekretaris Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Solok, Elyunus Esmara menyampaikan, pihaknya sudah melakukan pendalaman terkait aliran sesat yang berada di Sumani, Kabupaten Solok tersebut.

Dijelaskannya, MUI sudah melakukan koordinasi dengan lembaga-lembaga terkait seperti Muhammadiyah, NU dan lainnya. Namun, dari pertemuan, tidak satu pun yang mengetahui tentang aliran sesat itu.

Aliran sesat Sumani Solok
Elyunus

“Artinya kelompok ini baru tumbuh. Jadi kami rapat Bakorpakem dan disepakati waktu itu untuk pertama MUI yang terjun untuk melakukan investigasi terkait dengan aliran itu. Alhamdulilah sudah bertemu dengan mereka dan diwakili oleh difasilitasi oleh KUA X Singkarak. Jadi bukan patut diduga lagi, tapi memang ada aliran yang berkembang,”tuturnya.

Lebih lanjut dijelaskannya, aliran itu berkembang dari salah seorang guru di Padang dan juga ada dari luar daerah.

“Jadi aliran ini ada muridnya di Koto Sani dan murid ini tidak satu tingkatan tapi berbeda-beda guru. Yang paling senior (murid) ia mendapat dari gurunya di Jawa Tengah bukan yang di Padang. Saat mereka pulang kampung, karena merasa alirannya sama maka ia bergabung dengan aliran di Sumbar. Yang gurunya di Sumbar berpusat di Andalas Padang,”kata Elyunus.

Inti aliran yang diyakini oleh kelompok ini kata Elyunus, tidak mempercayai adanya Nabi Muhammad. Mereka percaya Al qur’an. Tapi tidak mempercayai Nabi Muhammad hanya mempercayai Nabi Ibrahim. Tapi puasa hanya sekedar menahan, naik haji diwaliki oleh guru, cukup ke Padang.

“Zakat cukup dengan mensucikan badan, salat tidak wajib, hanya untuk mengingat tuhan, jadi cukup diingat saja,” tuturnya.

BACA JUGA:  Wow, Tiga Sekolah di Pessel Terima Adiwiyata dari Menteri LHK

Perkembangan aliran belum menyebar luas, masih menggunakan metode pendekatan antara keluarga terdekat. Meski demikian, patut dikhawatirkan karena sudah merambah ke tingkat anak-anak.

“Untuk jumlah pengikutnya sekitar 20 orang. Jadi mereka masih bersifat internal. Tetapi tentu akan merembet. Contoh, anaknya yang SMA sudah berani mengatakan salat itu tidak wajib, nah ini sudah ada pengakuan gurunya,”kata Elyunus.

Hal lain yang patut menjadi perhatian menurutnya soal keterlibatan oleh Provinsi dalam menangani kasus tersebut. Karena menurutnya, permasalahan itu sudah seharusnya dibahas oleh tingkat provinsi.

“Karena aliran sudah berkembang di Padang tapi kini tidak kelihatan. Dulu sudah diketahui tapi tidak ditindaklanjuti,”ucapnya.

Reporter: Septi

Facebook Comments

loading...