Beranda Daerah Alat Pemisah Darah Rusak, Ketua PMI Kota Solok Harapkan Alat Baru

Alat Pemisah Darah Rusak, Ketua PMI Kota Solok Harapkan Alat Baru

PMI
Alat pemisah darah yang dimiliki PMI Kota Solok mengalami rusak sejak setahun terakhir, sehingga menganggu pelayanan donor darah

Beritanda1 – PMI (Palang Merah Indonesia) Kota Solok sangat membutuhkan alat pemisah darah. Alat ini berfungsi memisahkan whole blood (WB) menjadi trombosit, plasma, maupun packet red cell (PRC).

Tersebab alat yang selama ini dipakai untuk pemisah darah mengalami rusak sejak setahun terakhir, akibatnya  darah dari pendonor yang disumbangkan melalui Unit Transfusi Darah (UTD) PMI Kota Solok tak bisa dipilah.

“ Karena tidak berfungsinya alat pemisah darah, praktis kami tidak mempunyai stok trombosit. Jadi biasanya kalau ada permintaan trombosit, kami rujuk ke Rumah Sakit Umum Daerah Arosuka .” tutur Ketua PMI Kota Solok, Yutris Can, Selasa (07/9/2021).

Dalam pelayanannya, Unit Transfusi Darah Kota Solok telah banyak pula menerima bantuan baik secara moril maupun materil dari masyarakat maupun Pemerintah Daerah Kota Solok.

Sebagian besar alat-alat pengolahan darah merupakan bantuan dari Pemda Kota Solok dan Unit Transfusi Darah Pusat di Jakarta. Seiring berjalannya waktu, beberapa diantara alat tersebut mulai tidak berfungsi dengan baik, bahkan mengalami kerusakan yang mengakibatkan terhentinya kegiatan pengolahan darah.

Kerusakan alat ini berdampak kepada kebutuhan darah masyarakat Kota Solok dan warga yang berada di wilayah sekitar Solok.

Disebutkan Yutris Can, salah satu alat yang rusak adalah Alat Pengolahan Darah Refrigerator Centrifuge yang berfungsi untuk membuat komponen darah, seperti Trombosit (TC), Fresh Frozen Plasma (FFP), Liquid Plasma (LP), AHF (Cryo), Buffy Coat, yang sangat diperlukan khususnya untuk kasus-kasus emergency.

“ Seperti halnya pada kasus pendarahan pada ibu melahirkan, yang harus sesegera mungkin mendapatkan darah, karena fungsi dari komponen darah (TC) tersebut adalah untuk menghambat pendarahan. Akibatnya, pasien yang memerlukan transfusi komponen darah ini terpaksa dirujuk ke UTD Padang atau UTD terdekat lainnya, sehingga pasien terpaksa membayar Service Cost  ke Unit Transfusi Daerah lain karena tidak ada kerjasama BPJS dengan Pelayanan Darah di Luar Wilayah Kota Solok.”jelas Yutris Can.

BACA JUGA:  Idul Adha 1440 H, 6215 Hewan Qurban Disembelih di Kab. Solok

Mantan Ketua DPRD Kota Solok ini menyebut, tidak sedikit dari pasien BPJS yang akhirnya tidak jadi mendapatkan transfusi karena tidak ada biaya, sehingga tidak mendapatkan penanganan dengan cepat.

Selain itu,  untuk membayar Service Cost komponen darah, keluarga pasien juga memerlukan biaya lebih untuk akomodasi dan kesulitan dalam menyediakan donor pengganti yang harus dibawa ke daerah lain seperti kota padang, dan keluarga atau kerabat disana juga tidak ada untuk mendonorkan darahnya,”ucapnya

Refrigerator Centrifuge juga berfungsi untuk memisahkan plasma dengan sel darah merah dalam pembuatan Packed Red Cell (PRC) darah segar, khusus untuk pasien bayi. Pasien tersebut terpaksa menunggu lebih kurang 1 hari untuk transfusi karena PMI Kota Solok hanya memisahkan dengan cara pengendapan manual dan itu memakan waktu 1 hari paling cepat. Akibatnya bayi terlambat mendapatkan pelayanan darah.

Yutris Can mengharapkan kebutuhan terhadap alat pemisah darah ini bisa  terpenuhi tahun 2021 ini, agar  PMI Kota Solok tetap bisa berkontribusi dalam pelayanan darah masyarakat Kota Solok.

“ Khususnya pelayanan komponen darah yang sangat dibutuhkan oleh pasien-pasien pendarahan, gizi buruk, anemia, kekurangan Albumin, dan penyakit berat lainnya.”beber Yutris Can.

Terhadap kebutuhan alat pemisah darah itu, sejumlah Anggota DPRD Kota Solok, diantaranya Hj.Nurnisma.SH, Efriyon Coneng, Nasril In Dt Malintang Sutan.SH, Deni Nofri Pudung, Leo Murphy dan Andi Marianto.ST mengaku akan memperjuangkan dana hibah guna pengadaan alat tersebut.

Kebijakan ini sangat  mendesak karena berhubungan dengan nyawa masyarakat. Apalagi saat sekarang masyarakat sangat kesulitan  mendapatkan trombosit dan harus di rujuk terlebih dahulu ke rumah sakit lain.

“ Kita meminta kepada Pemerintah kota Solok melalui Dinas Kesehatan untuk lebih memprioritaskan anggaran pengadaan pembagi darah untuk PMI,” sebut Efriyon Coneng.

BACA JUGA:  Bupati Hendrajoni Terima DIPA dan TKDD 2020, Begini Pesan Gubernur Sumbar

Reporter: Wahyu Haryadi

Artikel sebelumyaKadis Nofenril : Surat Mendagri Terbaru, Pilwana Dilanjutkan
Artikel berikutnyaCuri Besi Proyek Tol Pekanbaru-Bangkinang, Polsek Tambang Tangkap Tiga Pelaku