Ahsanul Qisah (Bagian 15)

Ilustrasi (hanafi m risa)
Ilustrasi (hanafi m risa)

Dalam Pelukan Ibu

Cerbung: Hanafi M. Risa      

Ternyata, Raja Al Aziz Muda, yang gagah tampan dan disayang sejak masa kecil nya oleh rakyat Qahirah, kini jatuh tak berkutik dalam pelukan ibunya.

Rakyat yang melihat, tak pelak, ikut menangis. Mereka larut dalam suasana yang berbaur antara indahnya pertemuan, perihnya pengkhianatan, panasnya cemburu, serta gemilangnya kesabaran. Mereka terpesona. Mereka terbius. Group musik tradisionil yang tadianya disiapkan untuk kemeriahan kedatangan orangtua Raja, kini malah melantunkan irama lembut, dentingan harpa, dan zaffin rentak satu setengah, yang mengaduk-aduk perasaan.

Yakup, terus berzikir dan bersyukur. Ia mendekat ke Yusuf dan rahil. Yusufpun ikut merangkul Abi. Ia memeluk keduanya sekaligus. Bapak itu lambang perjuangan. Bapak itu, lambang ketegaran. Bapak itu lambang kesabaran. Dan Bapak adalah representasi pembimbing kehidupan, yang tangisnya tak boleh kelihatan. Ia cukup dikeluarkan di dalam bilik kesendirian, atau di bawah pohon kurma bebatuan. Bapak, adalah perlindungan. Bapak, sesungguhnya adalah ‘center of love’. Abiiii……

–000–

Rubin, Syam’un, Yahuda dan semua saudara tiri Yusuf kini saling pandang. Bukankah Kakak tertua dulu yang punya ide menyingkirkan Yusuf? Iya, tapi yang menganjurkan masukkan ke sumur, yahuda kan? Ah, sudahlah! Kita semua telah teledor. Tak ada lagi tempat sembunyi. Semua sudah terang benderang. Saya akan minta ampun pada Yusuf. saya salah. Saya, juga. Sayapun juga!

Lalu Rubin, bicara,”Yusuf. Kini engkau kami persilakan menghukum kami. Sekehendak hatimu. Mau kau ludahi, mau kau tampar, mau kau tendang, mau kau pukul cambuk, atau yang lebih berat dari itu. Bahkan jika harus kami menjadi budakmu, selama apapaun kau mau, silakan. Kami menyerah. Kami salah. Kami dulu terbawa cemburu dan irihati, padamu. Ini leher kami, perbuatlah sesukamu…..”

BACA JUGA:  Ahsanul Qisah (Bagian 11)

Yusuf terkesima mendengar ucapan itu. Terdengar dari lubuk hati nan dalam. Ungkapan penyesalan. Dan bukanlah Yusuf yang semena-mena membalas dendam. Di depan Ummi dan Abi, ia berucap,”Demi Tuhan Yang mengasihi ku dan mengasihi kakak semua, yang Menguasai segala Alam; saya hanya ingin kakak-kakak hidup bahagia dan semua maaf yang ada dikalbuku, aku serahkan untuk kakak-kakak!”

Demi mendengar ucapan Yusuf, semua kakak-kakaknya berlutut di hadapannya. bahkan Bunyamin yang bengong-bengong saja sedari tadi, ikutan berlutut karena hormatnya pada Yusuf yang sangat menyayanginya.

Yakup meletakkan telapak tangan di dada. Sejumput rasa tentram mengalir di hatinya. Menyebar ke seluruh tubuh. Membisikkan, betapa AgungNya Tuhan dan betapa sucinya ajaran kesabaran, keikhlasan, dan kejujuran. Yakup kini mampu tersenyum. “Masih ingat sebelas bulan bintang dan matahari yang engkau ceritakan dulu?” tanyanya ke Yusuf. Yusuf mmandang Abi, dan mengangguk. “Inilah kenyataannya!” jawab Abi. Sambil mengusap-usap kepala Yusuf. Subhanallah.

–000–

Adakah pesta yang dilakukan tahun keenam, memasuki tahun ketujuh paceklik?Ada! Ini dia. Di istana Raja Al Aziz, Qahirah. Pesta penyambutan keluarga Raja. Semua saudara, Ummi dan Abi, diminta Yusuf, untuk tinggal bersamanya. Pesta yang tak begitu mewah; sekedar makan minum dan penganan lezat. Roti khubz. Kue basbousa. Nasi minyak samin. Ikan bakar. Kare daging domba. Buah kurma. Buah pisang Afrika. Serta jeruk dari Tunis. Baraqallah. Wa syukurillah.

Saudara-saudaranya, oleh Yusuf diberi kegiatan, kini bahkan menjadi anggota panitia pembagian jatah pangan pada rakyat. Bunyamin saja yang setiap hari ikut Yusuf kemana-mana. Adik kandungnya itu, oleh Yusuf, selain dibimbing, juga jadi tempat berkasih sayang.

Begitulah, tak terasa berbulan kemudian, musim dan iklim berganti. Tiba-tiba di langit, terlihat gabak. Ada mendung terlihat dari jauh. Rakyat, yang sudah lebih enam tahun dikekang kemarau panjang; sumringah dan gembira hatinya. Akankah sore ini hujan pertama akan turun?

BACA JUGA:  Ahsanul Qisah (Bagian 6)

Jika iya, artinya memang betullah, mimpi Al Aziz senior, yang ditakwil Al Aziz Muda; tujuh tahun masa subur diikuti tujuh tahun maca paceklik.

Langit makin gelap. Awan bertambah tebal. Tiba-tiba terdengar guruh. Lalu kilat dan petir. Ya Tuhan, Yang Maha Berkuasa; hujan nan dirindukan segera datang. dan lahan pertanian akan kembali subur. Sumur-sumur tentu penuh berisi. Sayur tumbuh hijau, terutama sepanjang daerah aliran sungai Nil.

Dan betul. Tetes-tetes hujan turun pada awalnya jarang. Tapi besar-besar. lalu makin lebat. Makin deras. Rakyat mengembangkan tangannya. Memandang ke langit dengan ceria. Ya Tuhan, sudah berhenti kemarau panjang. SUdah datang tetes hujan. Lebat. Menyiram tanah. Membasuh atap. Mendinginkan kalbu!

Anak-anak, lebih gembira lagi. Mereka berlarian di halaman. Membiarkan kepala dijatuhi bintik hujan yang besar-besar. Tertawa-tawa. Berkejaran. Saling tangkap. Lalu berlari lagi. Alhamdulillah!

Di awal musim hujan inilah, tiba-tiba datang khabar dari kampung Ayahanda Al Aziz, bahwa beliau wafat. Yusuf kaget.

Bukankah setiap bulan dia berkunjung ke Ayah dan Bundanya itu, beliau senantiasa sehat wal afiat?

“Betul Tuan Raja Al Aziz. Kamipun, yang menemani beliau setiap hari, terkejut. Tak ada sakit keras. Kecuali demam-demam biasa. Tak ada kejadian aneh, semisal stroke, atau lemah. Atau apapun. Beliau pergi begitu saja….” kata pengawal yang ditugasi.

Memang, ketika berkunjung terakhir, Al Aziz bicara,”Yusuf. Saya bahagia tugas yang engkau laksanakan berjalan baik. saya bangga mewariskan negri ini kepadamu. Jika tak salah, firasatku hujan akan segera turun bulan-bulan mendatang. Panas udara sudah makin meninggi. Saya puas. Saya berterimakasih pada Tuhan yang telah mengirimmu kepadaku sejak kecil dulu…” Itu kalimat Al Aziz yang diingat Yusuf bulan lalu. Adakah itu pertanda pamit?

BACA JUGA:  Ahsanul Qisah (Bagian 13)

Dan Yusuf segera bertolak takziah ke kampung Al Aziz. Mengendarai unta besar, dengan membawa serta Abi. Ummi tak ikut, karena sudah tak memungkinlan lagi berjalan jauh. Kasihan….Itulah kali terakhir Yusuf, bersilaturrahmi ke rumah besar Al Aziz, ayahandanya, di kampung. Setelahnya, Yusuf

kembali ke Qahirah, dan menjalankan kepemimpinan dengan sebaik-baiknya. Barqallah lii wa lakum. (Selesai)

 

 

 

 

Facebook Comments

loading...