Ahsanul Qisah (Bagian 14)

Ilustrasi (hanafi m risa)
Ilustrasi (hanafi m risa)

 Bertemu Saudara

Cerbung: Hanafi M. Risa

Syam’un dan adik-adiknya diam tak berkutik di hadapan Yakup, bapak mereka. Sedari tadi, setelah mereka sampai dan mengabarkan apa yang terjadi pada bapak mereka; Yakup hanya diam. Itu membuat semuanya salah tingkah. Yahuda malah sudah sujud-sujud di kaki Yakup, tapi Yakup diam saja. Sekaku gunung ditutup es salju.

Tak ada reaksi sepatah katapun, selain buliran air perlahan menetes dari mata ke pipi, ke sudut bibir dan ke dagu. Mata yang sudah mengabur karena sejak Yusuf hilang, sering menangis siang dan malam, kini semakin bersimbah oleh air mata. Yakup merunut dari awal, semenjak ia melihat Rahil anak Laban. Lalu menikah Liya duluan , baru Rahil. Mendapatkan anak dari Liya 10 orang, Dan lahirlah Yusuf. Bunyamin di kandungan, Yusuf hilang.

Sekarang, Bunyaminpun hilang. Bencana yang memporakporandakan firasat, bahwa Yusuf harusnya melanjutkan tugas kenabian yang ia emban. Aduh, habislah semua harap!

Ibu mereka, Rahil, tak kalah dukanya. Dua anak kandungnya lenyap lengit, selalu bersama saudara-saudara angkatnya. Pedih hatinya. Luka batinnya. Pilu rintihnya….

“Kumpulkanlah semua harta, berikan pada Raja itu, tebuslah Bunyamin minggu depan. Ummi tak tahan, bunuh sajalah ummi mu ini sekalian!” umpatnya.

Saran Ummi itu masuk akal juga. Mencoba menebus Bunyamin. Dengan segala harta nan tersisa. Ada piring mangkok tembikar. Ada kulit pelana unta. Ada pedang tajam melengkung. Apapunlah! Yang penting Al Aziz dan pengawal serta panitia pembagian pangan, ikhlas melepas anak atau adik mereka. Tak sampai hati, melihat Abi, Yakup, tak bersuara, merenung dan air matanya tak berhenti mengalir. Penglihatannya, mulai kabur. Jalannya meraba-raba….

Dua hari berikutnya , saudara-saudara Yusuf datang kembali ke Qahira. Denngan segala asa. Dengan segala doa.

Ahad pagi antrian rakyat kembali memanjang. Tapi rombongan saudara-saudara Yusuf langsung ke depan bertemu panitia. Berbicara dengan ketuanya. Beberpa saat. Lalu kelihatan, ketua panitia, menggerak-gerakkan tangannya, pertanda penolakan. Saudara–saudara Yusuf, tertunduk. Termangu. Merenung. Bertemu Bunyaminpun, mereka hari ini tak bisa. Jangan-jangan Bunyamin kini ada dalam sel tahanan! Kasihan, anak kecil itu….

BACA JUGA:  Ahsanul Qisah (Bagian 2)

Beginilah, bilanglah ke panitia, bahwa jika Bunyamin adik mereka tak diizinkan pulang, orangtua mereka bisa mati tak makan, meninggal karena kesedihan,…

Rubin maju ke panitia dan pengawal, lalu meminta, berharap, menghiba. “Jika adik kami tak pulang, bapak kami mungkin meninggal, ibu kami mungkin mati karena sedih. Tolonglah Tuan…”

Ketua panitia masuk ke istana, dan menyampaikan hal itu ke Yusuf. Yusuf memandang ke adiknya Bunyamin, yang kini segar bugar. Kemudian, ia memberikan baju jubahnya ke Ketua Panitia. “Berikan baju ini ke saudara-saudara dari Falistin itu, katakan, bahwa Al Aziz berkirim baju ini untuk mengobati kesedihan bapak Bunyamin.”

“Baik Tuan ” jawab ketua Panitia. Begitulah, saudara-saudara Yusuf membawa jubah Yusuf pulang ke Falistin, sebagai balasan tawaran Yakup dan istrinya Rahil.

Sesampai mereka di halaman, belum lagi masuk ke rumah, Yakup sudah merasa aneh. Seakan dia mencium bau anaknya Yusuf dari jauh. Kepalanya tegak. Hidungnya bergerak-gerak. Darah mengalir ke kepala. Jantungnya berdebar-debar. Dan betul! Saudara-saudara Yusuf menceritakan apa yang dialaminya di Qahirah, dan memberikan jubah ke Abi mereka.

Begitu jubah itu dipegang Yakup dan didekatkan ke hidungnya, Yakup segera berdiri tegak! Ia berubah jadi tegap. Dan, masyaAllah, tiba-tiba matanya memandang ke sekeliling dengan normal! Aroma Yusuf, membuatnya hidup! Ini bukan tentang sihir, ini adalah tentang hubungan bathin yang tak dapat diceritakan antara seorang bapak dengan anak yang dia sayangi, yang akan jadi pelanjut tugas kerasulan!”Yusuf!, Anakku Yusuf!! Engkau masih ada!??” wajah Yakup merona. Senyum yang selama bertahun-tahun hilang, kini datang membayang….

Jika kita jadi anak, mungkin susah untuk merasakannya, namun jika kita pernah punya anak, hal ini mungkin mudah difahami. Bukan sekedar betapa membanggakan anak lelaki bagi bangsa Arab, tapi lebih dari itu! Bagai penyambung nyawa….

BACA JUGA:  Ahsanul Qisah (Bagian 15)

–000–

“Abi?” saudara-saudara Yusuf heran. Mengapa bapak mereka langsung sehat segar tegap demi memegang jubah Al Aziz? Sebegitu saktinyakah raja Al Misri di Qahirah itu? Padahal mereka yang membawa jubah itu tiga hari dua malam di perjalanan, tak merasakan apa-apa….

“Kita ke Qahira! Ini Yusuf! Ini pasti Yusuf!! Bilang ke Ummi, kita ke Qahira…” Yakup berkata. Semangat hidupnya tiba-tiba menyala. Saudara-saudara Yusuf saling pandang. Apa-apaan Abi ini? Bukankah Yusuf sudah ko-id di dasar sumur lama sekali?

“Abi! Abi ini bicara apa?” kata Syam’un.

“Yusuf masih hidup. Yusuf memanggilku ke Qahira. Kita akan kesana bersama!” jawab yakup. Yusuf masih hidup? Itu jubah Yusuf? Bukan, itu jubah Al Aziz, raja muda gagah di Qahira. Ah, Abi mungkin terhalusinasi!

“Ummi, Ummi. Yusuf anak kita, ada di Qahira. Ummi, kita kesana. Kita kesana segera!” suara Yakup bergetar. Ummi terbelalak. Saudara-saudaranya, malah mengerinyitkan kening, antara percaya dan takut.

–000–

Tak menunggu beberapa hari, rombongan Yakup dan keluarganya sudah berangkat ke Mesir. Walau Yakup dan Rahil sudah tua, tapi hari ini ia terlihat sedikit lebih muda. Jika beberpa hari lalu saja, mata Yakup masih buta, hari ini, di punuk unta, Yakup memandang garun pasir dan bukit berbatu dengan terang. Hati Yakup kini mungkin sedang melantunkan lagu senandung zikir. Memuji kebesaran Tuhan dengan nada bariton.

Saudara-saudara Yusuf yang memperhatikan gerak tingkah Yakup, terbakar cemburu. Iri yang dulu pernah ada, dan membuat Yusuf terpelanting ke dasar sumur. Bedanya, kini kehidupan berubah. Cemburu saudaranya tak terekspresikan, karena suasana kemiskinan, kemelaratan, paceklik, membuat mereka menjadi ‘pengemis’ ke Qahira. Duh!

Dua malam di perlajalanan, aroma Qahira sudah tercium. Suasana kehidupan agak beda. Rakyat terlihat lebih sumringah, karena pangan berkecukupan dibagikan Raja. Padahal sudah hampir memasuki tahun ke tujuh kemarau panas panjang. Para pengawal dan tentara Al Misri, segera berlari ke istana.

BACA JUGA:  Ahsanul Qisah (Bagian 8)

Kurir menginformasikan, rombongan keluarga Tuan Raja Al Aziz segera memasuki Qahira. Di Istana, Al Aziz, sang ananda Yusuf, bersiap dengan segala penyambutan. Halaman bersih dan ruang istana harum semerbak. Bunyamin sudah sedari tadi pagi mandi dan berpakaian indah. Wajahnya bulat lucu, seperti rembulan manis. Semingguan di istana, ia berubah jadi sehat segar dan ceria. Terkadang, adik Raja, lebih dihormati dan disayang, ketimbang Al Aziz,….. entah!

Unta yang membawa Yakup sampai di gerbang istana. Mereka dikawal beberapa pasukan berkuda. Bebrapa person istana yang pintar bermain musik harpa dan gendang, bersiap di sudut halaman. Sedari tadi mereka sudah latihan beberapa lagu puja -puji dan penghormatan pada Tuhan dan orang tua.Rakyat yang mendengar kedatangan keluarga Al Aziz dari falistin, juga penasaran, dan berbondong ingin melihat.

Begitu unta berhenti di gerbang, Al Aziz dan adiknya Bunyamin segera berjalan di hambal ungu yang disiapkan. Mereka tak sabar ingin bertemu Ummi dan Abi. Taukah engkau wahai teman, hati Yusuf bagai terekstase, melihat Ummi dan Abinya? Ingin ia terbang melayang memeluk Ummi. Memeluk Abi. Belum selesai Abi dan Ummi diturunkan pengawal, Yusuf Al Aziz telah memegang tangan ibunya, memeluknya erta-erat, dan menyurukkan kepalanya ke dada Ummi. Maka meledaklah tangis Ummi. Tak satu patah katapun terucap.

“Saya dibuang ke dasar sumur, Ummiiii…. Saya ditinggal sendirian, Ummiiiii….. Saya memekik minta tolong, Ummiiii….. Saya menangis dan takut, ya Ummiii……. Saya kedinginan Ummiii……. Mereka, saudara saya, membunuh saya Ummiii…” Yusuf menangis di pelukan tangan Ummi yang kulitnya rapuh. Mendengar itu, Ummi makin menguatkan pelukannya. Dia cium ubun-ubun Yusuf. (Bersambung)

Facebook Comments

loading...