Ahsanul Qisah (Bagian 13)

Ilustrasi (hanafi m risa)
Ilustrasi (hanafi m risa)

 Musim Panceklik

Cerbung: Hanafi M. Risa

Memasuki tahun ke delapan, Al Aziz mulai bertanya-tanya. Akankah paceklik betul-betul datang? Kemarau panjang dan angin gersang di gurun tandus? Setiap pagi Al Aziz terbangun, ia intip cuaca ke luar. Dingin. Dingin menusuk tulang. Lalu siangnya panas. Panas menggigit kulit. Anakku Yusuf, engkau benar-benar pentakwil yang baik.

Tampaknya gersang tandus kemarau panjang telah datang! TUhan telah memberi peringatan pada kita melalui mimpi, dan Tuhan telah mengutus engkau, putraku, menjadi jawabannya. Al Aziz manggut-manggut. Sambil mengelus jenggotnya nan memutih.

Tahun pertama paceklik itu, belum begitu berdampak pada rakyat Al Aziz. Mereka juga sudah diwanti-wanti kepala badan urusan logistik yang gagah ganteng tampan rupawan sejak awal, untuk menyimpan bahan pangan di lumbung masing-masing. Tahun kedua dan ketiga pun belum terasa sangat.

Al Aziz menikmati hasil kerja Yusuf, yang mengayomi rakyat dan menasehatkan berhemat serta jangan mubazir. Sayur dan buah, dalam jenis yang terbatas, masih tetap tersedia banyak, karena kerajaan mensubsidi harganya. Ada yang diimpor dari Afrika Barat, ada dari Asia Selatan bahkan ada rempah yang dibawa dari pulau- pulau kecil nun di timur.

Setelah tahun ketiga , persediaan di lumbung rakyat habis. Giliran gudang kerajaan yang menyuplai gandum, jagung dan kedelai. Telur unggas sudah tak ada, tapi ikan laut, masih tersedia. Kata mentri pangan, ikan itu baik untuk kesehatan dan kekuatan tubuh. Jadi, dengan mengendalikan diri dari nafsu makan serakah, selera sederhana, rakyat masih bertahan dalam kehidupan normal.

Yang kasihan adalah, daerah-daerah pedalaman jazirah arab dan Falistin serta pedalaman Afrika. Mulai diserang penyakit busung lapar, malnutrisi dan penyakit menular.

Di Qahirah, melihat kinerja Yusuf, maka Al Aziz memutuskan, menyerahkan pemerintahan pada anak muda bujangan, Yusuf. Kini, gelar Al Aziz, berpindah pada Yusuf. Dan ayahandanya, memilih istirahat dari dunia perpolitikan. Ada waktunya, dimana kita percayakan kekuasaan pada generasi penerus, sesuai tanda-tanda alam. Dan ayahanda Yusuf, arif akan hal ini.

Sekarang , di Qahirah, orang-orang mengenal kerajaan aman damai, bertahan survive dari terjangan kemarau panjang paceklik, dibawah kepemimpinan “Al Aziz’ muda. Tahniah ya Al Aziz!

–000–

Menghadapi paceklik keterbatasan tahun ke enam, Al Aziz muda masih bertahan. Gudang masih penuh puluhan buah. Hanyasaja, kini rakyat mulai antri mendapatkan bahan pangan dari kerajaan setiap hari. “Al Aziz” muda membagi hari pembagian sesuai daerah administratif rakyatnya. Hari Minggu khusus untuk rakyat pinggiran bahkan luar kerajaan yang perlu ditolong, sesuai azas kemanusiaan. Termasuk di dalamnya, Falistin. Kampung ‘Al Aziz’ muda.

Rombongan saudara-saudara Yusuf, sebelas orang dengan beberapa unta, datang mencoba peruntungan, mendapatkan pembagian stok pangan. Hari ini, Minggu, setelah sejak tiga hari lalu mereka berangkat dari kampung, nun di dekat bukit melengkung, di rerumpun kurma yang daunnya melambai. Mereka pamit pada Abi dan Ummi serta Bunyamin, lalu setapak demi setapak, menuju arah selatan untuk berbelok ke kanan, ke Qahirah.

Pagi Minggu, orang-orang dari kafilah lain, sudah mulai antri. Saudara tua Yusuf, menambah panjang antrian itu. Anak buah “Al Aziz” muda, dengan cekatan menimbang dan membagikannya pada rakyat yang wajahnya memelas dan penuh keprihatinan itu. Al Aziz, berdiri agak di atas altar batu. Menatap tajam pada rombongan unta dengan sebelas lelaki di antrian. Sungguh, dada Yusuf, Al Aziz muda, berdebar melihat wajah kakaknya.

Jelas sekali, itu adalah kakak tertuanya, dengan gurat wajah menua, mungkin karena sudah bekeluarga. dan di dekatnya itu, adalah kakak keduanya. lalu kakak ke tiga dan ke empat, serta berkelompok sampai sebelas. Yusuf nanar mencari-cari dengan bola matanya. Mana adik adik, yang kata pedagang dulu, manis seperti rembulan? Yusuf mempertajam pandangan.

BACA JUGA:  Ahsanul Qisah (Bagian 11)

Mencari-cari. …. Tak ada. Betul, tak ada. Ah,…adik manis bagai rembulan, engkau tak datang kesini? Atau tak diizinkan oleh Abi dan Ummi? Hampa!

–000–

Namun begitu, Raja “Al Aziz Muda” mendekati kakak-kakak Yusuf itu saat giliran mendapat jatah. Karung mereka masing-masing diisi petugas dengan gandum. Itu cukup untuk membuat roti khubz sebulan mendatang. Senangnya hati!

“Kerajaan ingin mendapat pahala lebih banyak. Apakah kalian ini bersaudara ?” tanya Al Aziz. “Betul, Tuan Raja. Kami sesungguhnya punya saudara seorang lagi, tapi masih rada kecil. Tidak ikut. Ia tinggal bersama bapak dan ibu kami.”

“Jika ingin dapat jatah lagi bulan depan, bawalah semua saudaramu kesini. Kami ikhlas dan tuan-tuan terbantu” ujar Al Aziz. Kakak-kakak Yusuf gembira. Artinya akan ada jatah satu karung lagi, jika Bunyamin turut serta.

“Oke Tuan Raja. Terimakasih. Tentu akan kami bawa semua saudara kami kesini bulan depan!” jawab kakak tirinya yang tertua .

“Toyyib. Bagus! Kami tunggu…” kata Raja dengan simpatik.

Kakak-kakak Yusuf segera kembali pulang ke Falistin, dan memuji-muji kebaikan Al Aziz, sepanjang jalan.

“Ternyata Raja mereka masih sangat muda ya?”

“Ho-oh!”

“Bukan hanya muda, tapi tampan juga. ”

“Ho-oh”

“Tampan. Ramah. Dermawan!”

“Ho-oh!”

“Tadi rasanya, hati kita begitu dekat dngan Beliau. Tidak berjarak dengan rakyat. Rendah hati!”

“Ho-oh!”

“He, kakak Yahuda ini, ho-oh ho-oh terus?”

“Ho-oh….”

“Abi, bulan depan Bunyamin ikut serta ke Qahirah ya?”

“La! Tak usahlah. Kehilangan Yusuf sudah membuat Abi luka teramat dalam. Jika Bunyamin hilang pula, habislah asa kehidupan!”

“Tapi Abi. Tuan Raja yang baik hati itu, takkan memberi jatah lagi jika tak mengikut sertakan semua saudara. Tuan Raja ingin mendapatkan pahala yang banyak dari Tuhan”

“Begitu?”

“Betul Abi…”

“Apa kalian mau bersumpah, menjaga adik perempuan satu-satunya sampai selamat pulang lagi?”

“Perkara mudahnya itu Abi. Kami lindungi Bunyamin. Tak kan lagi ada srigala seperti yang memakan Yusuf!”

“Sumpah?”

“Sumpah Abi. Demi Tuhan!”

“Okelah. Jangan sampai jatuh di lubang yang sama dua kali!”

“Demi Tuhan, kami akan menjaga Bunyamin. Dan kita dapat tambahan sekarung gandum lagi.”

–000–

Raja Al Aziz ayahanda Yusuf, sudah hengkang dari istana. Ia memilih tinggal di rumah di kampung asalnya. Ia bawa Siti Zulaikha ikut serta. Entah, Siti Zulaikha, sepertinya masih terkait hatinya di istana. Hingga ketika sampai di kampung suaminya, ia demam. Suaminya menasehatkan, boleh jadi dinda sedang direkayasa Tuhan untuk lebih dekat dengan Beliau.

Cobalah merenung, beramal dan berzikir lebih intens. Zulaikha mencobanya. He, betul. Beban terasa jadi agak ringan! Kepala mulai segar. Hati berubah tenang. dan demam pun hilang. Menyatukan hati dengan Tuhan.

Jadi secara psikologis kekeluargaan, Yusuf, Al Aziz yang baru, serasa sepi di istana. Apalagi cerita tentang keluarganya di falistin, dan ketemu dengan kakak tirinya beberapa minggu lalu, cukup berdampak pada rasa. sesuatu yang ada nun di sudut kalbu. Susah untuk mengatakannya. Oh.

Ahad bulan berikutnya, Al Aziz Muda, menanti. Akankah saudara tirinya datang bersama adik yang dia sangat ingin melihat wajahnya. Selain Ummi dan Abi, siapakah lagi kerabat sedarah dekat, selain adik dia satu-satunya itu?

BACA JUGA:  Ahsanul Qisah (Bagian 12)

Mata Al Aziz Muda, menginspeksi satu per satu antrian jatah pangan di halaman gudang istana. Sssst, lihat! Itu! Seorang lelaki belia dikelilingi sebelas lelaki! Bukankah itu kakak-kakak dia? Dia arahkan perhatian pada wajahnya. Namun sayang, anak lelaki kecil itu menunduk. Tapi jelas kulit dan alis serta mata nan cemerlang. ! Adikku…….

–000–

Al Aziz, senyum sendiri. Jelas! Itu adikku, kata hantinya. Lalu ia berzikir, meminta pada Tuhan, memejamkan mata; bagaimanakah caranya agar adiknya ikut tingal dengannya di Qahirah,…

Tak berapa lama, Yusuf membuka mata. Wajahnya berubah ceria. Dan segera memanggil ketua panitia pembagian jatah pangan ke dalam ruang. Yusuf membisikkan sesuatu. Ketua panitia itu terkaget, dan mengangguk-angguk. Lalu ia keluar. Yusuf sabar menunggu. Sesekali matanya melirik anak lelaki belia, di antrian. Adikku,…

Dan sampailah saatnya saudara-saudara Yusuf mendapatkan bagiannya. Setiap mereka mendapat satu karung gandum. Ooo,….betapa dermawannya Raja Aziz. Semoga rezki negri ini bertambah tambah, dan berkah.

Pemberian jatah selesai. Keluarga saudara-saudara Yusuf menaikkan karung makanan ke unta mereka. Tapi semua orang yang hadir tiba-tiba dikagetkan oleh teriakan seorang panitia pembagian. “He, tunggu! Takaran perak kami hilang. Padahal barusan ada di sini. Ianya ditarok di depan, sebagai lambang kasih sayang kami pada kalian. Ternyata ada yang tega mencuri!”

Semua rakyat yang hadir saling pandang. Siapalah yang iseng berbuat begitu! Alangkah keterlaluan! Diberi rezki oleh Raja, malah mencuri!

Tak ada yang menjawab. Semua kaku. Karena memang tak ada yang merasa mengambil. Memang sih, tadi mereka melihat ada takaran perak, ditarok di meja depan. Tapi karena memikirkan antrian, mereka tak ambil pusing dengan takaran pajangan itu. Dah, alamat panjang urusan!

“Coba, semua yang sudah terlanjur akan berangkat, turun dulu, mohon turun dari unta! Kita periksa satu persatu…” ujar panitia.

“Astaghfirullah! Apa tuan panitia mengira kami kesini pergi mencuri? Tidak, sekali-kali tidak! Kami ini orang baik-baik Tuan panitia!” kakak tertua Yusuf menjawab. Gusar!

“Kita buktikan! Jika memang ada di dalam karung salah seorang diantara kalian bagaimana?” tantang panitia. Wajahnya dingin.

“Yang terbukti mencuri, takaran itu ada dalam karungnya, sumpah, bersedia jadi budak Tuan disini!” jawab kakak Yusuf dengan tegas.

Ia merasa sangat tak pernah melakukan pencurian memalukan ini.

“Oke! Bagaimana dengan yang lain? Setuju, jika terbbukti mencuri, tinggal disini jadi budak?”

“Setuju tuan Panitia. Setujuuuu…….” jawab yang lain.

Lalu karung semua yang sudah terlanjur dijatah, diperiksa. Kakak-kakak Yusufpun dengan segra menunjukkan karung gandum mereka yang sudah menganga mulutnya. Panitia memasukkan tangan ke dalam. Dan memang, tak ada takaran perak di dalam karung. Bersih!

“Manalah mungkin kami akan melakukan itu, tuan Panitia,…” gerutu kakak Yusuf. Sementara panitia menuju karung adik mereka paling kecil, Bunyamin. Bunyamin bengong saja. Sebab karung dia ditumpukkan tadi bersama karung kakak-kakaknya. Ketika panitia membuka dan memeriksa karungnya, ia acuh saja. Dia bahkan tak tau, takaran perak itu seperti apa.

“Nah ! Ini dia!!” panitia mengangkat takaran perak dari dalam karung Bunyamin. Semua kaget. Anak kecil itu pencuri?

000–

Rubin dan Syam’un, kakak tertua Yusuf, terkejut bukan main. Bagaimana bisa takaran perak itu ada dalam karung Bunyamin? Buat apa takaran perak itu oleh Bunyamin? Sepintar apa Bunyamin menyambarnya dari altar depan, hingga tak ketauan seorangpun?

Mereka, kakak-kakak Yusuf, menatap Bunyamin dengan tajam, menyelidik. Bunyamin, yang memang tak merasa mengambil, bengong saja. Matanya innosen. Ia menggelengkan kepala.

BACA JUGA:  Ahsanul Qisah (Bagian 2)

Tapi, temuan Panitia Pembagian Pangan, tak bisa juga ditolak. Semua menyaksikan, ada di karung Bunyamin. Sudah bersuluh matahari, bergelanggang mata orang banyak. Tak dapat lagi berkata tidak. Apapun alasannya!

“Tidak mungkin!” Rubin masih berteriak.

Tapi Bunyamin sudah digiring pengawal ke ruang dalam. “Tidaaak!” Rubin seperti hendak menangis. Suaranya parau. Duh. Apalah yang akan dia sampaikan ke Abi dan Ummi lusa, di Falistin, akan nasib Bunyamin ini.

“Tidaaaak…” Rubin memukul kepalanya sendiri.

“Kalian pulanglah ke Falistin. Saya tak akan! Biarlah saya disini sampai Bunyamin dilepaskan, atau Tuhan mengambil nyawa saya….” Rubin, menahan tangis.

Tak hanya menahan tangis, tapi juga menahan malu. Dan menahan beban yang berdempet, dari kasus Yusuf kini ke kasus Bunyamin.

Orang-orang mulai pergi pulang. Termasuk saudara Yusuf yang lain. Rubin terduduk di pinggir halaman memagut kedua lututnya. Serasa akan dia antukkan kepalanya ke tanah!

–000–

Nun, di dalam ruangan, Yusuf sudah menunggu pengawal menggiring Bunyamin. Begitu sampai dalam ruang, Yusuf tak dapat lagi menahan hatinya. Dia serbu lelaki belia itu, langsung dipeluk erat-erat. Kali ini ia tak lagi peduli apakah akan disebut cengeng atau tidak; ia menangis menciumi kedua pipi, kening dan puncak kepala Bunyamin.

Bunyamin saja yang makin bingung.Dituduh mencuri, digiring, tapi dipeluk Raja Al Aziz… apa -apaan ini, fikirnya.

“Bunyamin, ini kakakmu dik! Ini kakak kandungmu… Aku anak Yakup dan Ummi Rahil. Lihat mata kakak dik. Lihat sini sayang… ” dan Yusuf makin menjadi -jadi tangisnya. Ah,…

“Yusuf?” tangan Bunyamin terangkat. Menggantung di pundak Yusuf.

“Betul adikku. Betul . Ini kakak, sayang. Lama kakak merindukanmu. Ketika kakak pergi, engkau masih di perut ibu. ”

Bunyamin mendengar Yusuf, dari Abi dan Ummi. Hanya saja, kata Ummi, Yusuf sudah mati dimakan srigala. Kakak-kakaknya juga bilang begitu.

“Kak Yusuf tak dimakan srigala?”

“Tidak sayang. Ini kakakmu. Peganglah. Pegang. kakakmu masih hidup kan?” Yusuf kembali memeluk kepala Bunyamin erat-erat. Pengawal, tak tahan melihat. Meleka mengalihkan pandang, tapi air mata mereka mengalir deras.

–000–

Setelah puas saling peluk, Yusuf membimbing tangan Bunyamin ke ruang makan. Menarik kursi kayu ukir. Mempersilakan Bunyamin duduk. Kemudian Yusuf sendiri duduk di samping Bunyamin. Pelayan istana mempersilakan keduanya menyantap hidangan.

Bunyamin surprise. Belum pernah ia melihat makanan semewah dan sebanyak ini. Di rumah, Ummi dan Abi selalu mengingatkan mereka, jika makan harus ‘bakalimek’ hemat. Jangan di’polong-polong’ mubazir.

Di sini, semua banyak, semua mewah, semua semerbak, semua seakan memanggil-manggil untuk dicicipi. Seekor ikan bakar besar ditarik Yusuf dan diletakkannya di piring Bunyamin. Bumbu kntal pedas asam, beraroma pala dan habbatussauda, tercium harum.

O, ingin Bunyamin segera menyantapnya. Iapun menoleh ke kakaknya , Yusuf. Yusuf senyum menggangguk. “Silakan, makan sepuasmu, dik!” katanya. Tapi Bunyamin tak memalingkan wajah. Ia tetap memandang kakaknya Yusuf.

“Kenapa?” tanya Yusuf.

Bunyamin diam tapi bibirnya seakan senyum.

“Ada apa?” tanya Yusuf lagi.

“He he, betul kata orang-orang di kampung, katanya saya dulu punya kakak yang tampan rupawan gagah sekali, tapi sayang mati dimakan srigala. Ternyata memang ganteng.!”

“Hep!” Yusuf mencowel pipi adiknya.”Ayo makan!” ujarnya.

Di luar, di pagar istana dekat gudang, seorang pengawal memberi sepiring makanan pada laki-laki yang sedari tadi kayak orang’miring’ kurang akal, duduk di batuan pasir. Kumal. Kesal. Letih. Mata kosong,….. Rubin! (Bersambung)

 

Facebook Comments

loading...