Ahsanul Qisah (Bagian 12)

Ilustrasi (hanafi m risa)
Ilustrasi (hanafi m risa)

 Mendapat Tahta

Cerbung: Hanafi M. Risa

“ Sudah. Sudah,…..semua sudah selesai. Yusuf, kami berdua minta maaf padamu atas kejadian bertahun lalu. Kini sampaikanlah takwil mimpi tujuh sapi kurus memakan tujuh sapi gemuk yang kualami berkali-kali malam-malam terakhir ini…”  kata Al Aziz mengalihkan suasana.

Yusuf berdiri dan menjawab, “Baiklah Ayahanda. Terlebih dulu saya berterimakasih atas kearifan dan kebijakan  Ayahanda. Saya merasa Ayahanda telah menghadirkan keadilan di tengah  hati kami. Saya berterimakasih juga pada Tuan Guru yang mengajarkan berbagai ilmu. Dan kehadiran Tuan Guru, adalah salah satu kebaikan yang telah dilakukan bunda Zulaikha kepada saya, diantara banyak kebaikan lainnya, yang takkan bias saya balas. Berkenaan dengan mimpi ayahanda itu, takwilnya adalah; bahwa akan dating tujuh masa tahun penuh nikmat dan panen melimpah di masa dating, yang akan diikuti tujuh tahun berikutnya berupa paceklik. Jika kerajaan bersama semua rakyat tidak mengantisipasinya dengan menabung bahan pangan saat musim subur, maka akan menderitalah rakyat di tujuh tahun berikutnya. Boleh jadi akan banyak yang meninggal….”

Al Aziz termenung sesaat. Takwil itu masuk akal. Hatinya membenarkan. Dan dia pun bertanya pada para mentri pembantu,”Bagaimana pendapat kalian tentang hal itu?” Para mentri menganguk-angguk. “Kami memaklumi Tuan Raja…” jawab mereka.

“Oke. Yusuf, kesinilah nak! Berdiri dekat ayahanda!” Yusuf patuh. Ia beranjak ke depan.

“Ayahanda minta engkau yang memimpin pengelolaan logistik bahan pangan negri kita, mulai hari ini, sekaligus membangun gudang-gudang penyimpanan. Mungkin semacam Bank Gandum dan bahan pangan. Gajimu setingkat mentri. Kamu boleh mendatangi ayahanda kapanpun untuk urusan kesejahteraan rakyat kita ini!” ujar  Al Aziz.

Yusuf, terperanjat. Anak muda yang salah tangkap dan mendekam di penjara seperti dia, kini jadi pejabat kerajaan? Apa dia tak bermimpi? Ya Tuhan, skenario apa pula ini yang Engkau siapkan untuk saya….. Yusuf menghampiri Al Aziz dan menyalami serta memeluk ayah angkatnya itu. Para hadirin yang hadir seperti terhipnotis. Mereka serasa dihidangkan kejadian yang mempesona jiwa. Menentramkan lubuk hati. Ya Allah, ya Qadir, wahai Engkau Yang Maha berkehendak. … Ini adalah garisMu wahai Tuhan, dan hamba akan melaksanakannya sebagai ibadah.

BACA JUGA:  Ahsanul Qisah (Bagian 4)

Seperti disulap, Yusuf berubah menjadi pejabat muda nan gagah. Tampan dan dikagumi. Apalagi jika ia tengah serius bekerja, maka ibu-ibu dan anak gadis yang kebetulan memandang, sejenak terpesona. Sekali memandang, boleh kan? Tidak diulang-ulang, dan tidak dilanjutkan dengan khayalan.

–000–

Hari-hari berikutnya adalah kesibukan Yusuf bersama timnya, mensosialisasikan perkiraaan musim yang bakal berdampak pada kesejahteraan hidup masyarakat, tujuh tahun setelah tujuh tahun berikutnya. Pada umumnya masyarakat menerima konsep berhemat, menabung dan program jangka menengah Panjang yang dicanangkan Yusuf. Dampaknya, rakyat membuat lumbung mereka sendiri di rumah, berhemat untuk menghadapi zaman paceklik. Bagi hasil pertanian yang berlimpah, dibeli Lembaga pangan Yusuf, disimpan di Gudang kerajaan. Yusuf bahkan memiliki jaringan dengan kerajaan di jazirah Yaman, Saudi, Falistin dan Libya untuk membeli bahan pangan. Kebersihan Gudang dijaga dengan baik. Lantai tidak dibiarkan lembab. Ventilasipun diperhitungkan. Semua diniatkan Yusuf untuk kebaikan rakyat masa datang, dan ibadahnya ke Sang Penguasa Alam. Gestur, mimik, gerakan bola mata, aura, dan semua ‘kakobeh’ pemimpin yang berniat ibadah itu dengan mudah dirasakan dan ditangkap rakyat, hingga Yusuf tak menemui halangan dengan kerja-kerjanya.

Sekali waktu, Yusuf berjalan ke lahan pertanian. Berbincang dengan penggarap lahan. Mengusulkan pembersihan jalur pengairan dari sungai Nil. Di kala lain, ia menyarankan agar anak-anak mengkonsumsi telur unggas, supaya lebih fit menghadapi masa depan yang tak terduga. Dan terkadang ia, ada di pasar memantau kelancaran barang-barang. Suatu kali, ia sempat erbincang dengan pedagang dari Falistin, kampungnya. Cerah wajah Yusuf, mendengar kabar bahwa Yakup, bapaknya masih hidup. Hanyasaja, kata pedagang itu, badan Yakup sekarang agak kurusan. Ah,….Yusuf jadi nelangsa………. Ada rindu di pelosok dada. Saudara-saudaranya juga baik-baik saja, di antara mereka sudah ada yang berkeluarga. Sedangkan adik mereka yang paling kecil, Bunyamin, tumbuh jadi lelaki kecil yang lucu. Manis roman mukanya.

BACA JUGA:  Ahsanul Qisah (Bagian 2)

“Siapa nama adik kecil itu?” tanya Yusuf.

“Jika tak salah, Bunyamin. Bunyamin nan elok seperti rembulan, he he he…” jawab pedagang itu sambil tertawa. Yusuf memandang jauh. Ke dataran langit dan awan…. Di atas daun kurma yang bergoyang melambai-lambai…..

“Udah ya. Selamat berdagang. semoga banyak untung hari ini.” ujar Yusuf lalu berlalu. Tak ingin ia pedagang Falistin itu melihat basah di ruang matanya. Aduh,…

–000–

Percakapan dengan pedagang Falistin itu pendek sebenarnya. Tapi dampaknya pada hati Yusuf, panjang. Ada gelora rindu muncul membakar. Abi kini telah kurusan? Tidak sakit kan? Tidak. Abi tak usah sakit,…. bisik hatinya. Ummi? Jangan -jangan ummi juga kurus, menanggungkan beban kehilangan anak lelaki tampannya, kemudian melahirkan anak si bungsu, Bunyamin. Bunyamin? Ungkapan pedagang tadi, Bunyamin manis, seperti rembulan. Inginnya hati menatap roman muka adiknya itu. Apakah ia mirip Ummi? Manis, seperti rembulan. Ah, pasti teduh. Pasti lembut. Pasti senang memandangnya. Pasti tak ingin memalingkan wajah. ….. Manis seperti rembulan, manis seperti rembulan,…..bibir Yusuf mengulang-ulang ungkapan tiga kata itu, sambil kuda yang ia tunggangi berjalan pelan-pelan saja, menuju istana. Manis, seperti rembulan, manis seperti rembulan,…. Bunyamin, ingin ia godaadik kecil itu jika ketemu, atau ia pegang ubun-ubunnya,…. Bibir Yusuf senyum sendiri. Telapak kuda mengiringi khayalnya tentang seorang adik lelaki bagai rembulan. Klak-tok, klak-tok, klak-tok,……kaki kuda.

TIba-tiba wajah kakaknya yang sulung muncul. Diikuti kakak kedua, tiga dan empat! Yahuda! Lalu terus berikutnya. Tak dia sangka , dibalik ramah ajakan menggembala, kakak-kakak itu mencampakkannya ke dasar sumur. Itu pedih! Itu membunuh! Tapi,….andai tak diperlakukan begitu, akankah dia bertemu Ali Bayi’ ? Jika tidak dikhianati kakaknya, akankah ia akan sampai di Qahirah dan bertemu bunda Siti dan ayahanda Al Aziz? Uh, kadang geram, kadang senyum Yusuf memikirkan jalan hidupnya. Terlepas dari semua itu, kapankah ia bisa bertemu Ummi? Bercerita panjang dengan Abi? Dan menggoda Bunyamin, si adik lelaki manis? Entahlah!

BACA JUGA:  Ahsanul Qisah (Bagian 15)

Takwil tentang tujuh tahun nan subur dan melimpah, ternyata betul kenyataan. Hasil pertanian pangan penduduk berlebih-lebih. Gandum serta jagung, bagai benda yang terpandang ada dimana-mana. Begitu juga dengan ternak, angsa, domba serta unta dan kuda. Negri ini seakan-akan surga yang disayang Tuhan. Dan Yusuf, mentri urusan logistik pangan, tiada lelah mengingatkan, simpan,…tabung,…..jaga jangan mubazir….. Al Aziz, kini, di usianya yang makin tua, sesekali menginspeksi gudang-gudang pangan kerajaan yang jumlahnya ratusan. Tentram hatinya, melihat kerja Yusuf. Anak ini, cekatan, kata hatinya. Walaupun ia anak angkat, dan berasal dari jauh bukan Qahirah, tampaknya ada tanda-tanda, Yusuf bisa memimpin negri ini melanjutkan apa yang sudah ia usahakan. Al Aziz menghirup nafas. Dalam-dalam. Lalu menghembuskannya dengan pelan,….wuuuuussss. ! (Bersambung)

 

Facebook Comments

loading...